• Kamis, 8 Oktober 2026

Industri Padat Karya Mulai Bangkit, Namun Pemulihan Belum Saatnya Dirayakan Berlebihan

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Kamis, 24 September 2026 | 17:20 WIB
Industri Padat Karya Mulai Bangkit, Namun Pemulihan Belum Saatnya Dirayakan Berlebihan
Industri Padat Karya Mulai Bangkit, Namun Pemulihan Belum Saatnya Dirayakan Berlebihan

Namun, kondisi tersebut sekaligus menghadirkan tantangan karena industri nasional harus berhadapan dengan produk impor di pasar domestik.

Penguatan pasar dalam negeri karena itu perlu berjalan beriringan dengan peningkatan daya saing.

Sejumlah instrumen seperti Standar Nasional Indonesia (SNI), Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), standar industri hijau dan sertifikasi halal digunakan untuk memperkuat posisi produk nasional.

Tantangan Ekspor Masih Besar

Untuk sektor tekstil, pakaian jadi, alas kaki dan furnitur, perubahan pesanan global menjadi salah satu tantangan utama.

Pembeli internasional tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kualitas, kecepatan pengiriman, kepastian pasokan, standar lingkungan dan kemampuan memenuhi persyaratan rantai pasok.

Indonesia juga harus bersaing dengan negara seperti Vietnam dan Thailand yang memiliki basis manufaktur kuat.

Besarnya skala manufaktur Indonesia menjadi modal penting, tetapi belum otomatis berarti daya saing ekspor lebih unggul.

Jangan Terjebak Euforia Pemulihan

Meski berbagai indikator menunjukkan perbaikan, kondisi industri tetap perlu dicermati.

Pada Agustus 2026, PMI manufaktur Indonesia berada di angka 49,8, atau sedikit di bawah ambang ekspansi 50.

BPS juga mencatat komponen tenaga kerja dalam IKBM masih mengalami kontraksi ketika pesanan dan produksi telah berada di zona ekspansi.

Hal tersebut menunjukkan proses pemulihan industri belum berjalan secara linear.

Karena itu, ukuran keberhasilan industri padat karya tidak cukup hanya melihat pertumbuhan subsektor.

Sedikitnya terdapat lima indikator yang perlu diperhatikan secara bersamaan, yakni pertumbuhan output, utilisasi kapasitas, produktivitas tenaga kerja, jumlah tenaga kerja dan upah riil pekerja.

Kenaikan output yang tidak disertai peningkatan tenaga kerja memiliki dampak sosial ekonomi yang berbeda dengan kenaikan produksi yang sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.

Menjaga Momentum Pertumbuhan

Industri padat karya Indonesia saat ini memperoleh momentum pertumbuhan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

Terpopuler

X