• Kamis, 8 Oktober 2026

Industri Padat Karya Mulai Bangkit, Namun Pemulihan Belum Saatnya Dirayakan Berlebihan

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Kamis, 24 September 2026 | 17:20 WIB
Industri Padat Karya Mulai Bangkit, Namun Pemulihan Belum Saatnya Dirayakan Berlebihan
Industri Padat Karya Mulai Bangkit, Namun Pemulihan Belum Saatnya Dirayakan Berlebihan

Namun, besarnya MVA tidak serta-merta menunjukkan struktur industri telah efisien atau produktivitas tenaga kerja telah optimal.

Apalagi, angka MVA tersebut menggunakan harga berjalan sehingga perubahan nilai tukar dan harga turut memengaruhi nilai nominalnya.

Ruang Peningkatan Produksi Masih Terbuka

Tingkat utilisasi industri pengolahan nonmigas saat ini disebut masih sekitar 64,8 persen. Pemerintah menargetkan tingkat utilisasi tersebut meningkat setidaknya menjadi 70 persen.

Sementara itu, sekitar 78,4 persen output manufaktur diserap pasar domestik dan 21,6 persen diekspor.

Kondisi ini menunjukkan masih terdapat ruang untuk meningkatkan produksi melalui optimalisasi kapasitas yang telah tersedia tanpa harus selalu membangun pabrik baru.

Namun, bagi perusahaan padat karya, peningkatan order saja belum cukup.

Perusahaan membutuhkan kepastian bahwa permintaan dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup untuk mendorong perekrutan tenaga kerja, pembelian bahan baku, pembukaan shift baru maupun investasi mesin.

Persoalan berikutnya adalah produktivitas tenaga kerja.

Kenaikan biaya upah, energi dan logistik serta persaingan harga global mendorong perusahaan mencari kombinasi tenaga kerja dan teknologi yang mampu menghasilkan biaya produksi kompetitif.

Karena itu, kebijakan industri padat karya perlu berjalan pada dua jalur sekaligus, yakni mempertahankan kemampuan industri dalam menyerap tenaga kerja sekaligus meningkatkan produktivitas pekerja.

Kredit Industri Padat Karya Jadi Salah Satu Instrumen

Kementerian Perindustrian telah menggunakan Kredit Industri Padat Karya (KIPK) untuk enam sektor, yakni makanan dan minuman, tekstil, pakaian jadi, furnitur, alas kaki dan mainan anak.

Program tersebut diarahkan untuk mendukung revitalisasi mesin dan peralatan produksi serta meningkatkan produktivitas.

Langkah tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga keberlangsungan industri padat karya di tengah tuntutan peningkatan efisiensi dan daya saing.

Pasar Domestik Jadi Penyangga

Besarnya pasar domestik menjadi salah satu kekuatan manufaktur Indonesia.

Dengan 78,4 persen output manufaktur diserap pasar dalam negeri, industri nasional memiliki basis permintaan yang relatif besar ketika pasar global mengalami perlambatan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

Terpopuler

X