• Kamis, 8 Oktober 2026

Industri Padat Karya Mulai Bangkit, Namun Pemulihan Belum Saatnya Dirayakan Berlebihan

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Kamis, 24 September 2026 | 17:20 WIB
Industri Padat Karya Mulai Bangkit, Namun Pemulihan Belum Saatnya Dirayakan Berlebihan
Industri Padat Karya Mulai Bangkit, Namun Pemulihan Belum Saatnya Dirayakan Berlebihan

DEPOK, MAHATVA.ID – Industri padat karya Indonesia mulai menunjukkan sinyal pemulihan. Sejumlah subsektor manufaktur yang dalam dua tahun terakhir menghadapi tekanan permintaan, ekspor hingga pemutusan hubungan kerja, mencatat pertumbuhan positif pada triwulan II 2026.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut sejumlah sektor utama mengalami pertumbuhan. Industri furnitur tumbuh 11,8 persen, alas kaki dan kulit 11,3 persen, makanan dan minuman 6,5 persen, serta tekstil dan pakaian jadi 6,4 persen.

Secara keseluruhan, 14 dari 15 subsektor industri yang dipantau mencatat pertumbuhan positif.

Data tersebut disampaikan Agus dalam ANTARA Business Forum 2026 di Jakarta, 23 September 2026.

Pertumbuhan tersebut menjadi sinyal membaiknya permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia. Namun, kondisi itu belum otomatis dapat dimaknai sebagai pemulihan penuh industri padat karya.

Muhammad Sirod, S.TP., M.Han., dalam kajiannya menilai terdapat tiga indikator yang perlu dibaca secara bersamaan, yakni pertumbuhan produksi, penciptaan nilai tambah, dan penyerapan tenaga kerja.

Pertumbuhan produksi belum otomatis diikuti peningkatan jumlah pekerja karena perusahaan dapat meningkatkan produktivitas melalui optimalisasi mesin, reorganisasi produksi maupun pemanfaatan teknologi.

Manufaktur Memasuki Fase Ekspansi

Kinerja industri juga sejalan dengan indikator Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM).

Pada triwulan II 2026, IKBM mencapai 52,31, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Komponen pesanan, produksi dan stok berada pada posisi ekspansi.

Namun, komponen tenaga kerja masih berada dalam posisi kontraksi.

Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan produksi belum sepenuhnya diikuti dengan pemulihan pasar kerja.

Di sisi lain, Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia pada 2025 mencapai US$275,61 miliar, meningkat dari sekitar US$265,07 miliar pada 2024.

Kementerian Perindustrian menyebut posisi Indonesia naik dari peringkat ke-13 menjadi ke-12 dunia.

Data Bank Dunia yang dikutip dalam kajian tersebut mencatat MVA Indonesia pada 2025 sebesar US$275,613 miliar. Angka tersebut menunjukkan besarnya nilai ekonomi yang diciptakan sektor manufaktur nasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

Terpopuler

X