• Kamis, 8 Oktober 2026

‎Dubes Djauhari Oratmangun Dorong Potensi Tanimbar, SDA dan Ekonomi Kreatif Tembus Pasar Tiongkok

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Senin, 5 Oktober 2026 | 17:12 WIB
‎Dubes Djauhari Oratmangun Dorong Potensi Tanimbar, SDA dan Ekonomi Kreatif Tembus Pasar Tiongkok
‎Dubes Djauhari Oratmangun Dorong Potensi Tanimbar, SDA dan Ekonomi Kreatif Tembus Pasar Tiongkok

MAHATVA.ID -Kabupaten Kepulauan Tanimbar dinilai memiliki modal besar untuk berkembang menjadi salah satu wilayah strategis di Maluku apabila potensi sumber daya alam, kelautan, sumber daya manusia, seni budaya, dan ekonomi kreatif mampu diolah menjadi kekuatan ekonomi nyata bagi masyarakat.
‎
‎Pandangan itu disampaikan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, saat diwawancarai Mahatva.id di Hotel Beringin Dua, Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Senin (5/10/2026).
‎
‎Djauhari mengatakan, kekuatan pertama yang perlu dikembangkan Tanimbar adalah potensi sumber daya alam, khususnya sektor laut dan maritim.
‎
‎“Sumber daya laut dan maritimnya itu kalau dikembangkan dengan bagus, manfaatnya akan luar biasa,” kata Djauhari.
‎
‎Menurutnya, pembangunan Tanimbar tidak cukup hanya bertumpu pada kekayaan alam. Potensi tersebut harus berjalan beriringan dengan penguatan kualitas sumber daya manusia yang dinilai memiliki kreativitas tinggi.
‎
‎“Yang kedua sumber daya manusia. Orang-orang dari Tanimbar itu kreativitasnya tinggi. Dalam situasi alam seperti ini mereka bisa berkreasi banyak,” ujarnya.
‎
‎SDM, Seni dan Budaya Jadi Modal Ekonomi Kreatif
‎
‎Djauhari juga melihat perkembangan pendidikan, seni dan budaya di Tanimbar sebagai modal penting untuk membangun industri kreatif.
‎
‎Ia menilai kreativitas masyarakat Tanimbar telah terlihat dalam berbagai bidang, termasuk seni dan budaya yang memiliki karakter serta identitas lokal yang kuat.
‎
‎“Saya kira banyak sudah menunjukkan kreativitas tersebut, termasuk di sektor seni dan budaya. Jadi, industri kreatif,” katanya.
‎
‎Menurut Djauhari, apabila sumber daya alam, sumber daya manusia, seni budaya, dan kreativitas masyarakat dapat dikombinasikan dalam sebuah strategi pembangunan yang terarah, Tanimbar memiliki peluang untuk berkembang sesuai harapan masyarakat.
‎
‎“Kalau semua ini dikombinasikan dengan baik, saya kira Tanimbar akan maju seperti yang diharapkan oleh banyak orang,” tuturnya.
‎
‎Investor Tiongkok Mulai Melirik Tanimbar
‎
‎Peluang lain yang disoroti Djauhari adalah terbukanya ruang kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Tiongkok, termasuk kemungkinan masuknya investasi ke Tanimbar.
‎
‎Ia mengungkapkan, dirinya datang ke Tanimbar bersama sejumlah pengusaha yang menunjukkan ketertarikan terhadap potensi daerah tersebut.
‎
‎“Saya datang dengan beberapa pengusaha. Mereka sangat tertarik untuk berinvestasi di sini, di sektor-sektor yang seperti saya sebutkan tadi,” ungkapnya.
‎
‎Djauhari menyebut jarak geografis masih menjadi salah satu tantangan dalam membuka konektivitas investasi dan perdagangan dengan Tanimbar. Namun, menurutnya, persoalan tersebut bukan alasan untuk menutup peluang kerja sama.
‎
‎“Memang satu hambatan adalah jarak, tapi nanti kita cari solusinya,” katanya.
‎
‎Ia menilai posisi Tiongkok dalam perekonomian Indonesia membuat hubungan perdagangan kedua negara dapat menjadi salah satu pintu bagi produk-produk daerah untuk menembus pasar yang lebih luas.
‎
‎Djauhari berharap hubungan perdagangan Indonesia-Tiongkok tidak hanya berhenti pada transaksi berskala nasional, tetapi juga mampu membawa produk-produk unggulan dari Maluku, termasuk Kabupaten Kepulauan Tanimbar, masuk ke pasar internasional.
‎
‎“Saya ingin supaya perdagangan ini juga menyangkut produk-produk dari Provinsi Maluku dan termasuk dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar,” ujarnya.
‎
‎Dari Potensi Lokal Menuju Pasar Global
‎
‎Pernyataan Djauhari membuka perspektif bahwa tantangan Tanimbar bukan semata-mata soal memiliki atau tidak memiliki potensi, melainkan bagaimana potensi tersebut diubah menjadi produk, investasi, lapangan kerja, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
‎
‎Sektor kelautan dan maritim, ekonomi kreatif, seni budaya, pariwisata serta produk lokal dapat menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi apabila didukung infrastruktur, konektivitas, kualitas SDM dan akses pasar.
‎
‎Dalam konteks hubungan Indonesia-Tiongkok, peluang tersebut dapat menjadi lebih luas apabila produk dan komoditas dari Tanimbar memiliki kualitas, kontinuitas produksi, serta daya saing yang mampu memenuhi kebutuhan pasar.
‎
‎Soal Tugu Pendiri, Djauhari Pilih Sikap Profesional
‎
‎Dalam wawancara tersebut, Djauhari juga ditanya mengenai gagasan menjadikan Tugu Pendiri Kabupaten Kepulauan Tanimbar, S.J. Oratmangun, sebagai ikon sejarah, budaya, pariwisata, sekaligus simbol perjuangan para pendiri daerah.
‎
‎Menanggapi hal tersebut, Djauhari memilih menyerahkan persoalan itu kepada masyarakat Tanimbar.
‎
‎“Itu biar masyarakat saja,” jawabnya.
‎
‎Ia menegaskan kehadirannya di Tanimbar dalam kapasitas sebagai Duta Besar Republik Indonesia memiliki fokus pada hubungan diplomatik dan peluang kerja sama yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
‎
‎“Saya hadir sebagai Duta Besar. Cita-cita saya hanya supaya dengan potensi yang ada di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, mudah-mudahan potensi ini bisa berubah menjadi aksi nyata sehingga itu bisa memberi manfaat bagi masyarakat Kabupaten,” tegasnya.
‎
‎Djauhari kembali menekankan bahwa persoalan sejarah mengenai tokoh pendiri daerah sebaiknya menjadi ruang masyarakat Tanimbar untuk menentukan dan memaknainya sendiri.
‎
‎“Masalah sejarah, biarlah masyarakat saja. Karena itu kan hubungan pribadi. Jadi lebih baik saya yang profesional,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X