• Sabtu, 10 Oktober 2026

Bioethanol E5 Indonesia Hadapi Tantangan Bahan Baku, Harga hingga Infrastruktur

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Selasa, 8 September 2026 | 20:42 WIB
Bioethanol E5 Indonesia Hadapi Tantangan Bahan Baku, Harga hingga Infrastruktur
Bioethanol E5 Indonesia Hadapi Tantangan Bahan Baku, Harga hingga Infrastruktur

Dalam materi APSENDO, biaya bahan baku ilustratif berada pada kisaran Rp6.000–Rp6.750 per liter ethanol untuk molases, Rp8.100–Rp8.780 untuk cassava, dan Rp15.000–Rp18.000 untuk corn.

Angka tersebut merupakan biaya bahan baku, bukan keseluruhan biaya produksi ethanol.

Molases relatif menarik dari sisi biaya, tetapi volumenya terbatas. Cassava menawarkan pilihan bahan baku yang lebih luas, tetapi membutuhkan kawasan produksi, produktivitas dan dukungan logistik.

Sementara corn memiliki biaya bahan baku lebih tinggi sehingga keekonomiannya membutuhkan perhitungan yang lebih ketat.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga mencatat harga keekonomian BBM campuran bioethanol masih lebih tinggi dibandingkan BBM fosil.

Sejumlah tantangan yang diidentifikasi antara lain produktivitas dan rendemen yang rendah, keterbatasan lahan tebu, kompetisi penggunaan molases serta kebutuhan infrastruktur.

Karena itu, persoalan harga tidak cukup diselesaikan hanya dengan menentukan harga jual ethanol di sisi hilir. Struktur harga harus memberikan ruang agar produsen bersedia berproduksi, sementara biaya akhirnya tetap dapat dipertanggungjawabkan kepada konsumen dan negara.

Materi Kemenko Perekonomian mencatat pemerintah telah menyiapkan pengaturan Harga Jual Eceran dan Harga Indeks Pasar untuk BBM campuran bioethanol serta mekanisme pembebasan cukai untuk FGE melalui PMK Nomor 34 Tahun 2026.

Instrumen tersebut pada akhirnya perlu dilihat dari dampaknya terhadap produksi aktual dan keekonomian industri.

Kepastian Offtake Menentukan Keputusan Investasi

Bagi investor, keputusan membangun pabrik tidak hanya ditentukan oleh biaya investasi. Pertanyaan yang sama pentingnya adalah siapa yang akan membeli produk tersebut.

APSENDO menempatkan kepastian offtake sebagai salah satu unsur utama dalam membangun ekosistem FGE yang layak dibiayai.

Unsur lainnya meliputi kepastian bahan baku, harga, infrastruktur blending dan konsistensi regulasi.

Hubungannya saling berkaitan. Petani dan pemasok membutuhkan kepastian pasar. Produsen ethanol membutuhkan kepastian bahan baku. Investor membutuhkan kepastian pembeli. Pembeli membutuhkan harga dan spesifikasi yang dapat diterima.

Tanpa rangkaian tersebut, kapasitas pabrik berisiko hanya tercatat sebagai kapasitas terpasang tanpa menghasilkan produksi optimal.

Karena itu, kontrak pasokan bahan baku dan kontrak offtake idealnya menjadi dua sisi dari keputusan investasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X