Perbedaan lokasi tersebut kemudian menimbulkan persoalan biaya pengumpulan, penyimpanan dan transportasi. Karena itu, lokasi pabrik ethanol idealnya tidak hanya ditentukan berdasarkan harga bahan baku, tetapi berdasarkan total delivered cost hingga produk mencapai titik tujuan.
Saldo Molases Belum Cukup untuk E5 Nasional
Dengan menggunakan asumsi konversi sekitar 4,0–4,5 kilogram molases untuk menghasilkan satu liter ethanol, saldo nominal molases sekitar 569 ribu ton secara teoritis setara dengan sekitar 126,4–142,3 ribu kiloliter ethanol.
Angka tersebut merupakan perhitungan berdasarkan asumsi dalam materi APSENDO, bukan estimasi produksi aktual.
Jika dibandingkan dengan kebutuhan teoritis E5 nasional sekitar 1,8 juta kiloliter, ekuivalen ethanol tersebut hanya sekitar 6,9–7,7 persen.
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Mapped supply molases | 1,7 juta ton |
| Mapped domestic demand | 1,1 juta ton |
| Saldo nominal | sekitar 569 ribu ton |
| Asumsi konversi | 4,0–4,5 kg/liter |
| Ekuivalen ethanol | 126,4–142,3 ribu kL |
| Kebutuhan teoritis E5 nasional | 1,8 juta kL |
| Kontribusi teoritis saldo molases | 6,9–7,7% |
Angka tersebut bukan berarti molases tidak layak menjadi bahan baku bioethanol. Sebaliknya, molases tetap menjadi pilihan awal yang paling praktis.
Persoalannya, molases tidak cukup jika dijadikan satu-satunya basis untuk E5 nasional dalam skala penuh.
Masa Depan Bioethanol Dimulai dari Industri Gula
Ketersediaan bahan baku ethanol sangat berkaitan dengan kinerja industri gula.
Data kinerja industri gula 2025 menunjukkan luas areal tebu sekitar 563,4 ribu hektare, produksi tebu sekitar 39,1 juta ton, produksi molases sekitar 1,8 juta ton, dan produksi gula sekitar 2,7 juta ton.
Sementara sugar recovery tercatat sekitar 6,8 persen dengan target mencapai 7,4 persen.
Data tersebut menunjukkan masih terdapat ruang untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri gula.
Peningkatan produksi ethanol tidak harus dimulai dengan ekspansi lahan secara agresif. Peningkatan produktivitas tebu, perbaikan rendemen dan peningkatan utilitas pabrik gula dapat memperkuat produksi gula sekaligus memperbesar basis molases.
Materi Marcia Tamba dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga menempatkan peningkatan areal tebu, kesejahteraan petani, produktivitas, rendemen, pembangunan dan utilitas pabrik gula, produksi gula serta produksi tetes dalam satu rangkaian roadmap bioethanol.
Setelah fondasi tersebut diperkuat, roadmap berlanjut pada kebutuhan tetes untuk FGE, kapasitas pabrik FGE, mandatori dan infrastruktur.
Urutan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bioethanol pada dasarnya merupakan pembangunan rantai pasok dari hulu ke hilir.
Harga Menjadi Penentu Keekonomian
Ketersediaan bahan baku saja belum cukup. Rantai pasok harus berjalan dengan struktur harga yang memungkinkan setiap pelaku memperoleh keekonomian yang layak.