• Sabtu, 10 Oktober 2026

Bioethanol E5 Indonesia Hadapi Tantangan Bahan Baku, Harga hingga Infrastruktur

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Selasa, 8 September 2026 | 20:42 WIB
Bioethanol E5 Indonesia Hadapi Tantangan Bahan Baku, Harga hingga Infrastruktur
Bioethanol E5 Indonesia Hadapi Tantangan Bahan Baku, Harga hingga Infrastruktur

Materi Harsono Budi mencatat kapasitas fuel-grade ethanol sekitar 70,5 ribu kiloliter per tahun dari lima produsen. Sementara kapasitas seluruh ethanol domestik, termasuk berbagai grade, mencapai sekitar 303,3 ribu kiloliter per tahun.

Perbedaan ini penting karena tidak seluruh ethanol otomatis memenuhi spesifikasi fuel-grade yang dibutuhkan untuk bahan bakar.

Materi yang sama mencatat produksi FGE pada 2025 hanya sekitar 0,8 ribu kiloliter. Jika dibandingkan dengan kapasitas dedicated FGE sebesar 70,5 ribu kiloliter, tingkat utilisasinya hanya sekitar 1,2 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan dua persoalan sekaligus. Indonesia masih membutuhkan tambahan kapasitas ketika mandatori diperluas, tetapi kapasitas yang telah tersedia juga belum termanfaatkan secara optimal.

Karena itu, persoalan bioethanol tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun pabrik baru. Ekosistem bahan baku, harga, kepastian pembelian dan infrastruktur harus berjalan bersamaan.

Molases Jadi Pilihan Awal Paling Realistis

Sebagian besar industri ethanol yang dipetakan saat ini menggunakan molases atau tetes tebu sebagai bahan baku.

Materi Geovanni Garias Pradhana, Chairman APSENDO, menyebut 12 dari 13 pemain ethanol yang teridentifikasi menggunakan molases.

Molases memiliki sejumlah keunggulan. Bahan tersebut merupakan produk samping industri gula, teknologi pengolahannya telah dikenal, sistem pengadaan dan logistik telah tersedia, serta pasar industrinya sudah terbentuk.

Karena itu, molases dinilai menjadi titik awal paling realistis untuk membangun pasar FGE.

Namun, neraca molases perlu dibaca secara hati-hati.

Berdasarkan Molasses Mapping 2025–2026 yang digunakan APSENDO, pasokan molases yang terpetakan mencapai sekitar 1,7 juta ton, sedangkan mapped demand domestik sekitar 1,1 juta ton. Secara nominal terdapat saldo sekitar 0,6 juta ton.

Saldo tersebut tidak serta-merta berarti seluruh volumenya siap dialihkan untuk produksi ethanol.

Molases telah memiliki pengguna lain di sektor industri. Selain itu, persoalan lokasi juga menjadi faktor penting.

Data APSENDO menunjukkan pasokan molases terpetakan di Jawa sekitar 1,1 juta ton dengan kebutuhan yang juga relatif besar. Sementara di luar Jawa terdapat pasokan sekitar 0,6 juta ton, sedangkan mapped demand yang tercatat masih jauh lebih kecil.

Artinya, surplus secara nasional belum tentu berarti surplus di lokasi yang membutuhkan ethanol.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X