Ukuran keberhasilan juga perlu bergeser dari sekadar menghitung kapasitas terpasang menjadi kapasitas yang benar-benar beroperasi.
Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa kapasitas FGE yang memiliki feedstock, berapa yang beroperasi, berapa volumenya telah dikontrak, berapa yang terserap pembeli dan berapa yang benar-benar masuk ke proses blending.
Infrastruktur Menentukan Biaya hingga Titik Blending
Ethanol yang telah diproduksi belum otomatis menjadi bahan bakar siap konsumsi. Produk harus disimpan, diangkut dan dicampurkan dengan bensin sebelum masuk ke jaringan distribusi.
Karena itu, infrastruktur menjadi bagian penting dari keberhasilan mandatori.
Marcia Tamba memasukkan peningkatan infrastruktur pendukung sebagai salah satu tantangan implementasi. Roadmap Kemenko Perekonomian juga memasukkan pembangunan infrastruktur pendukung mandatori E5–E10.
Harsono Budi dari Pertamina NRE menempatkan blending infrastructure sebagai salah satu unsur ekosistem komersial bioethanol.
Persoalan logistik semakin penting karena sumber bahan baku dan pusat blending tidak selalu berada di lokasi yang sama.
Jika molases tersedia dalam jumlah besar di luar Jawa sementara kebutuhan awal terkonsentrasi di Jawa, pemerintah dan pelaku usaha harus menghitung apakah lebih efisien mengirim molases menuju fasilitas pengolahan atau mengirim ethanol menuju fasilitas blending.
Keputusan tersebut harus didasarkan pada biaya total hingga titik serah.
E10 dan E20 Membutuhkan Diversifikasi Feedstock
Kenaikan dari E5 menuju E10 tampak sederhana karena persentase pencampuran meningkat dua kali lipat. Namun dari sisi rantai pasok, kebutuhan produksinya jauh lebih besar, terlebih ketika wilayah implementasi juga diperluas.
Harsono Budi memperkirakan kebutuhan bioethanol meningkat dari 220 ribu kiloliter pada 2026 menjadi 530 ribu kiloliter pada 2030.
Untuk skenario E20 di sejumlah kota, kebutuhan bahkan dapat mencapai lebih dari 1 juta kiloliter per tahun.
Pada skala tersebut, ketergantungan hanya pada molases akan semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan.
APSENDO memberikan ilustrasi skenario E20 dengan produksi ethanol sekitar 4 juta kiloliter dari sugarcane, 2 juta kiloliter dari corn dan 2 juta kiloliter dari cassava, dengan total 8 juta kiloliter.
Angka tersebut merupakan skenario ilustratif, bukan target kebutuhan nasional yang telah ditetapkan pemerintah.