berita

Bioethanol E5 Indonesia Hadapi Tantangan Bahan Baku, Harga hingga Infrastruktur

Selasa, 8 September 2026 | 20:42 WIB
Bioethanol E5 Indonesia Hadapi Tantangan Bahan Baku, Harga hingga Infrastruktur

Perbedaan lokasi tersebut kemudian menimbulkan persoalan biaya pengumpulan, penyimpanan dan transportasi. Karena itu, lokasi pabrik ethanol idealnya tidak hanya ditentukan berdasarkan harga bahan baku, tetapi berdasarkan total delivered cost hingga produk mencapai titik tujuan.

Saldo Molases Belum Cukup untuk E5 Nasional

Dengan menggunakan asumsi konversi sekitar 4,0–4,5 kilogram molases untuk menghasilkan satu liter ethanol, saldo nominal molases sekitar 569 ribu ton secara teoritis setara dengan sekitar 126,4–142,3 ribu kiloliter ethanol.

Angka tersebut merupakan perhitungan berdasarkan asumsi dalam materi APSENDO, bukan estimasi produksi aktual.

Jika dibandingkan dengan kebutuhan teoritis E5 nasional sekitar 1,8 juta kiloliter, ekuivalen ethanol tersebut hanya sekitar 6,9–7,7 persen.

ParameterNilai
Mapped supply molases1,7 juta ton
Mapped domestic demand1,1 juta ton
Saldo nominalsekitar 569 ribu ton
Asumsi konversi4,0–4,5 kg/liter
Ekuivalen ethanol126,4–142,3 ribu kL
Kebutuhan teoritis E5 nasional1,8 juta kL
Kontribusi teoritis saldo molases6,9–7,7%

Angka tersebut bukan berarti molases tidak layak menjadi bahan baku bioethanol. Sebaliknya, molases tetap menjadi pilihan awal yang paling praktis.

Persoalannya, molases tidak cukup jika dijadikan satu-satunya basis untuk E5 nasional dalam skala penuh.

Masa Depan Bioethanol Dimulai dari Industri Gula

Ketersediaan bahan baku ethanol sangat berkaitan dengan kinerja industri gula.

Data kinerja industri gula 2025 menunjukkan luas areal tebu sekitar 563,4 ribu hektare, produksi tebu sekitar 39,1 juta ton, produksi molases sekitar 1,8 juta ton, dan produksi gula sekitar 2,7 juta ton.

Sementara sugar recovery tercatat sekitar 6,8 persen dengan target mencapai 7,4 persen.

Data tersebut menunjukkan masih terdapat ruang untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri gula.

Peningkatan produksi ethanol tidak harus dimulai dengan ekspansi lahan secara agresif. Peningkatan produktivitas tebu, perbaikan rendemen dan peningkatan utilitas pabrik gula dapat memperkuat produksi gula sekaligus memperbesar basis molases.

Materi Marcia Tamba dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga menempatkan peningkatan areal tebu, kesejahteraan petani, produktivitas, rendemen, pembangunan dan utilitas pabrik gula, produksi gula serta produksi tetes dalam satu rangkaian roadmap bioethanol.

Setelah fondasi tersebut diperkuat, roadmap berlanjut pada kebutuhan tetes untuk FGE, kapasitas pabrik FGE, mandatori dan infrastruktur.

Urutan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bioethanol pada dasarnya merupakan pembangunan rantai pasok dari hulu ke hilir.

Harga Menjadi Penentu Keekonomian

Ketersediaan bahan baku saja belum cukup. Rantai pasok harus berjalan dengan struktur harga yang memungkinkan setiap pelaku memperoleh keekonomian yang layak.

Halaman:

Terkini