• Kamis, 8 Oktober 2026

PLN EPI dan SBRC IPB Kembangkan Rantai Pasok Biomassa Berbasis Petani

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Selasa, 29 September 2026 | 14:11 WIB
PLN EPI dan SBRC IPB Kembangkan Rantai Pasok Biomassa Berbasis Petani
PLN EPI dan SBRC IPB Kembangkan Rantai Pasok Biomassa Berbasis Petani

JAKARTA, MAHATVA.ID — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dan Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB University menyiapkan kerja sama pengembangan pasokan biomassa untuk mendukung kebutuhan bahan bakar program co-firing pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pasokan dari hulu hingga hilir, mulai dari penanaman tanaman energi, penguatan kelembagaan petani, pembiayaan, pengolahan biomassa, hingga kepastian rantai pasok menuju pembangkit.

Pembahasan mengemuka dalam pertemuan PLN EPI dan SBRC IPB di Jakarta, Selasa (29/9/2026). Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dan Kepala SBRC IPB Dr. Meika Syahbana Rusli membahas pengembangan model pasokan biomassa yang dapat direplikasi di berbagai daerah.

Skema yang dibahas menempatkan penanaman tanaman energi sebagai bagian dari sistem bisnis yang terhubung dengan kebutuhan pembangkit, bukan sekadar kegiatan budidaya yang berdiri sendiri.

Kebutuhan pengembangan model tersebut sejalan dengan target peningkatan pemanfaatan biomassa oleh PLN EPI. Perusahaan menargetkan pemanfaatan sekitar 3,7 juta ton biomassa pada 2026 dan meningkat menjadi 10 juta ton pada 2030.

PLN EPI juga memperkirakan potensi biomassa nasional mencapai sekitar 83,4 juta ton. Potensi tersebut membuka ruang pengembangan bahan baku, tetapi kebutuhan pembangkit tetap mensyaratkan pasokan dengan volume, kualitas, kontinuitas, dan biaya logistik yang terukur.

Karena itu, pengembangan pasokan membutuhkan keterhubungan antara petani, kelompok tani, BUMDes atau koperasi, mitra pengolah, lembaga pembiayaan, PLN EPI, dan PLTU sebagai pengguna akhir.

Pengalaman SBRC IPB menunjukkan bahwa fondasi ekosistem tersebut mulai terbentuk melalui sejumlah proyek percontohan.

Dalam proyek produksi biomassa untuk PLTU Adipala, SBRC mencatat keterlibatan 330 petani, 18 Kelompok Tani Hutan (KTH), tiga BUMDes, 10 desa, dan tiga kecamatan. Pengembangan dilakukan melalui lahan demonstration plot seluas 6,78 hektare serta 103,136 hektare lahan tanaman energi.

Pola budidaya yang diterapkan antara lain alley cropping menggunakan tanaman gamal dan kopi serta enrichment planting menggunakan kaliandra.

Pengembangan juga dilakukan di Kecamatan Cinangka, Banten, yang dipilih karena memiliki potensi hutan rakyat sekitar 8.300 hektare dan relatif dekat dengan PLTU Labuan.

Pilot project di wilayah tersebut melibatkan 315 petani, 16 KTH, 12 desa, lahan demplot 5,7 hektare, serta 251 hektare hutan tanaman energi. Kegiatan mencakup pembentukan kelembagaan pengelolaan bahan baku (feedstock management), kerja sama BUMDes dengan mitra, pembangunan nurseri kaliandra dan gamal, hingga panen perdana biomassa.

Pengalaman pengiriman biomassa menunjukkan rantai pasok dapat dijalankan ketika para pelaku dan hubungan kontraktual telah terbentuk.

Dalam uji coba di Cilacap pada November–Desember 2024, tiga BUMDes mengirimkan total 1.067.650 kilogram biomassa melalui 166 perjalanan. Sementara di Banten, tiga BUMDes mengirimkan 396.600 kilogram melalui 72 perjalanan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

Terpopuler

X