Menurut Djoko, Gubernur Bali memberikan dukungan terhadap kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di WK Agung I dan Agung II serta WK Barong yang berada di wilayah offshore utara Pulau Bali.
Sebagai bagian dari kearifan lokal, Gubernur Bali juga direncanakan menggelar upacara adat di laut Bali sekitar 24 September 2026.
Upacara tersebut akan melibatkan berbagai pihak terkait sebagai bentuk permohonan keselamatan dan kelancaran sebelum kegiatan survei seismik dilaksanakan.
Djoko menyebut pelaksanaan kegiatan seismik direncanakan mulai Oktober 2026. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan perhitungan Gubernur Bali, tanggal 22 Oktober 2026 dipandang sebagai hari yang baik untuk memulai kegiatan tersebut.
Percepatan eksplorasi tersebut juga ditandai dengan komitmen investasi yang cukup besar.
Djoko menyebut total investasi untuk kegiatan seismik di WK Agung I dan Agung II mencapai lebih dari US$42,7 juta.
Kegiatan survei seismik direncanakan berlangsung hingga awal 2027. Setelah seluruh data diperoleh, analisis akan dilakukan untuk menentukan langkah eksplorasi berikutnya.
Apabila hasil analisis menunjukkan adanya potensi hidrokarbon yang signifikan, pengeboran satu sumur eksplorasi akan dilakukan sesuai komitmen pasti.
Djoko menegaskan SKK Migas, pemerintah daerah, BP, dan Inpex memiliki semangat yang sama untuk mempercepat rangkaian kegiatan eksplorasi.
Tahapannya meliputi pelaksanaan survei seismik, analisis data seismik, hingga pengeboran eksplorasi.
SKK Migas optimistis keterlibatan BP dan Inpex dapat memberikan dorongan kuat bagi kegiatan eksplorasi karena kedua perusahaan memiliki pengalaman dan kapasitas teknologi dalam pengembangan lapangan migas berskala besar.
“Kami sangat yakin dan optimis dua raksasa Jepang, Inpex, dan Inggris, BP, bukan kaleng-kaleng karena sangat berpengalaman menemukan cadangan gas yang sangat besar di Tangguh Papua dan Masela Maluku, mempunyai teknologi terkini dan dana yang besar serta sumber daya manusia yang mumpuni dan sangat profesional,” kata Djoko.
Dengan percepatan tersebut, SKK Migas berharap eksplorasi WK Agung I dan Agung II dapat menghasilkan data bawah permukaan yang semakin akurat sehingga potensi hidrokarbon di wilayah offshore Bali dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti.