Pergerakan tersebut terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana meningkatkan operasi pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah jangka panjang hingga US$6 miliar.
Meski pemerintah AS meningkatkan nilai buyback, pasar tetap merespons negatif karena sebagian pelaku pasar sebelumnya memperkirakan nilai pembelian kembali bisa mencapai US$7 miliar hingga US$8 miliar.
Harga Minyak Tembus US$100, Pasar Waspadai Inflasi
Selain obligasi, kenaikan harga minyak menjadi perhatian besar investor global.
Harga minyak Brent ditutup naik 3,36 persen menjadi US$101,21 per barel, sedangkan minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 3,25 persen menjadi US$96,05 per barel.
Keduanya mencatat harga penutupan tertinggi sejak Mei.
Lonjakan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar karena kenaikan harga energi dapat kembali memberikan tekanan terhadap inflasi global.
Pelaku pasar juga mulai memperhatikan risiko apabila harga minyak terus bergerak naik. Level US$120 per barel dinilai akan menjadi titik yang semakin mendapat perhatian serius pasar.
Inflasi China Mulai Menguat
Dari Asia, data ekonomi China turut menjadi perhatian.
Inflasi tahunan China pada Agustus 2026 meningkat menjadi 0,8 persen, dibandingkan 0,5 persen pada Juli. Secara bulanan, indeks harga konsumen naik 0,4 persen.
Kenaikan tersebut terutama berasal dari harga nonpangan yang meningkat, antara lain dipengaruhi biaya transportasi, bahan bakar, serta meningkatnya aktivitas perjalanan.
Sementara itu, inflasi produsen China juga menunjukkan perbaikan sehingga memberikan indikasi bahwa tekanan deflasi mulai mereda.
Perkembangan ekonomi China penting bagi Indonesia karena perubahan permintaan dari negara dengan perekonomian terbesar di Asia tersebut dapat memengaruhi perdagangan, harga komoditas, nilai tukar, serta kinerja saham berbasis komoditas.
Investor Cermati Data Ekonomi Indonesia
Di dalam negeri, investor juga akan mencermati sejumlah indikator ekonomi, termasuk Indeks Keyakinan Konsumen dan penjualan ritel Indonesia.
Data tersebut menjadi indikator penting untuk melihat kekuatan konsumsi domestik dan daya beli masyarakat.