Rupiah membuka perdagangan dengan penguatan 0,31 persen ke level Rp17.570 per dolar AS. Penguatan kemudian berlanjut hingga rupiah menguat sekitar 70 poin pada penutupan.
Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.490 per dolar AS.
Penguatan rupiah sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia.
Pada pukul 15.00 WIB, DXY tercatat melemah 0,15 persen ke level 98,642 dan sempat menyentuh 98,630, level terendah dalam hampir tiga pekan.
Tekanan terhadap dolar AS juga dipengaruhi penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta penguatan yen Jepang.
SBN Tertekan, Yield Obligasi 10 Tahun Naik
Sementara itu, pasar Surat Berharga Negara (SBN) bergerak berlawanan dengan rupiah.
Imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun meningkat menjadi 7,095 persen pada perdagangan Rabu, dari posisi penutupan sebelumnya sebesar 7,088 persen.
Kenaikan yield mengindikasikan tekanan jual lebih dominan di pasar obligasi, sehingga investor cenderung melakukan pelepasan surat berharga.
Pergerakan SBN menjadi salah satu indikator yang akan dicermati investor karena berkaitan dengan arus modal, ekspektasi suku bunga, serta kondisi pasar keuangan global.
Wall Street Kembali Melemah
Tekanan juga datang dari pasar saham Amerika Serikat.
Wall Street kembali terkoreksi pada perdagangan Rabu (9/9/2026), seiring kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS dan lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi.
Dow Jones Industrial Average turun 405,41 poin atau 0,77 persen menjadi 52.380,66.
S&P 500 melemah 0,48 persen ke level 7.636,36, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,64 persen menjadi 26.253,34.
Ketiga indeks utama Wall Street tersebut mencatat penurunan selama tiga hari perdagangan berturut-turut.
Kenaikan imbal hasil Treasury menjadi salah satu tekanan utama bagi pasar saham. Yield Treasury 10 tahun sempat naik hingga 4,857 persen, level tertinggi sejak November 2023.