• Sabtu, 10 Oktober 2026

Kasus Kekerasan Anak Meningkat, Pemkab Bogor Ingatkan Bahaya Jejak Digital

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Kamis, 10 September 2026 | 00:23 WIB
Kasus Kekerasan Anak Meningkat, Pemkab Bogor Ingatkan Bahaya Jejak Digital
Kasus Kekerasan Anak Meningkat, Pemkab Bogor Ingatkan Bahaya Jejak Digital

Arsip digital, kata dia, dapat terus beredar meskipun konten awal telah dihapus.

Edi juga menilai meningkatnya laporan kasus dapat menjadi indikasi positif karena masyarakat semakin berani speak up. Namun, ia mengingatkan masih terdapat fenomena gunung es, termasuk kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO).

Untuk memperkuat perlindungan anak, Edi mendorong keluarga membangun Family Digital Agreement, yakni kesepakatan bersama antara orang tua dan anak mengenai penggunaan perangkat serta aktivitas di ruang digital.

“Kenali, dampingi, dan laporkan. Kenali perubahan emosi anak, dampingi ketika menghadapi persoalan, dan jangan ragu melapor apabila terjadi tindak pidana,” jelasnya.

Edi menambahkan, layanan UPT PPA DP3AP2KB Kabupaten Bogor menyediakan pendampingan psikologis dan hukum secara gratis bagi korban yang membutuhkan.

Perwakilan Diskominfo Kabupaten Bogor, Dheni Heryandi Rachman, menekankan pentingnya penguatan literasi digital bagi remaja sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang aman bagi anak.

Menurut Dheni, jejak digital tidak hanya berkaitan dengan keamanan saat ini, tetapi juga dapat memengaruhi masa depan anak.

Rekam jejak digital negatif berpotensi menjadi salah satu pertimbangan dalam proses seleksi beasiswa maupun profiling ketika seseorang memasuki dunia kerja.

Karena itu, Dheni mendorong orang tua mengubah pola komunikasi dengan anak. Pendekatan berupa larangan yang terlalu ketat perlu diimbangi dengan dialog, diskusi berdasarkan studi kasus, serta kesepakatan bersama.

“Orang tua harus menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bercerita. Bukan hanya hadir untuk melarang, tetapi juga mendampingi dan berdiskusi ketika anak menghadapi persoalan di ruang digital,” katanya.

Dheni juga mengingatkan remaja agar tidak menjadikan standar yang muncul di media sosial sebagai ukuran kehidupan nyata.

Menurutnya, algoritma media sosial dapat membentuk persepsi pengguna berdasarkan pola konsumsi konten. Karena itu, apa yang muncul di layar belum tentu menggambarkan realitas kehidupan secara keseluruhan.

Dheni mengajak generasi muda menerapkan tiga langkah bijak dalam menggunakan ruang digital, yakni tabayun, mengoptimalkan fitur privasi, dan menggunakan media sosial untuk hal positif.

Ia juga mengingatkan pentingnya memberikan jeda sebelum membagikan informasi atau konten di media sosial.

“Biasakan jeda lima detik sebelum menekan tombol kirim atau bagikan. Tanyakan kepada diri sendiri, apakah informasi ini benar, apa dampaknya, dan apakah memang perlu dibagikan,” ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X