• Sabtu, 10 Oktober 2026

Muhammad Sirod Lulus S2 Resolusi Konflik di Usia 47 Tahun, Perjalanan Akademik yang Tak Linear

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Jumat, 4 September 2026 | 22:14 WIB
Muhammad Sirod Lulus S2 Resolusi Konflik di Usia 47 Tahun, Perjalanan Akademik yang Tak Linear
Muhammad Sirod Lulus S2 Resolusi Konflik di Usia 47 Tahun, Perjalanan Akademik yang Tak Linear

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pendekatan multidisiplin tidak berarti seseorang harus mengetahui seluruh bidang secara dangkal.

“Menjadi manusia yang multidisiplin ilmu tidak berarti mengetahui semuanya secara dangkal. Seseorang tetap perlu memiliki kompetensi utama, kemudian membangun kemampuan untuk menghubungkannya dengan bidang lain,” jelasnya.

Muhammad Sirod menegaskan bahwa generasi muda tidak perlu meniru jalur pendidikan maupun karier yang telah dilaluinya.

Menurutnya, setiap generasi hidup dalam konteks dan tantangan yang berbeda.

Namun, ia berharap generasi muda tidak terlalu cepat menganggap pilihan pendidikan atau pekerjaan pertama sebagai penentu seluruh perjalanan hidup.

“Pesan yang ingin saya sampaikan sederhana, jangan terlalu cepat menganggap bahwa pilihan pertama akan menentukan seluruh hidup kita,” katanya.

Ia mendorong generasi muda untuk membangun kompetensi, memperluas pengalaman, belajar bekerja dengan orang lain, mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta memahami teknologi.

Selain itu, seseorang juga perlu tetap membuka ruang untuk mempelajari bidang baru dan berubah mengikuti perkembangan kehidupan.

“Pelajari bidang yang kita tekuni sampai mempunyai kedalaman. Kemudian tetap beri ruang bagi diri sendiri untuk berubah,” ujarnya.

Bagi Muhammad Sirod, semakin kompleks persoalan yang dihadapi manusia, semakin sulit persoalan tersebut diselesaikan hanya melalui satu disiplin ilmu.

Teknologi membutuhkan manusia, bisnis tidak dapat dilepaskan dari organisasi, organisasi berkaitan dengan kepemimpinan, sementara kepemimpinan erat hubungannya dengan komunikasi dan pengelolaan konflik.

Perjalanan panjang dari agroindustri hingga resolusi konflik itu, menurutnya, menjadi rangkaian pembelajaran yang saling melengkapi.

“Kita tidak selalu tahu ke mana sebuah pengalaman akan membawa kita. Tetapi selama kita terus menambah pengetahuan, memperluas pengalaman, dan berani mempelajari sesuatu yang berbeda, perjalanan yang tampak berbelok dapat membentuk satu kemampuan yang utuh,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X