“Jika ukuran pendidikan adalah usia rata-rata mahasiswa, tentu saya lebih tua. Tetapi jika ukuran pendidikan adalah relevansinya terhadap kehidupan, jawabannya bisa berbeda,” katanya.
Muhammad Sirod menambahkan, pengalaman empiris yang dimilikinya selama dua dekade membantu dirinya memahami berbagai teori yang dipelajari selama menjalani pendidikan magister.
Sebaliknya, teori yang diperoleh di ruang akademik juga membantu dirinya membaca berbagai pengalaman secara lebih sistematis.
“Pengalaman empiris membuat teori mempunyai tempat untuk berpijak di benak saya. Sebaliknya, teori membantu pengalaman dibaca dengan lebih sistematis,” ucapnya.
Muhammad Sirod juga menyoroti perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), yang semakin memengaruhi berbagai sektor kehidupan.
Menurutnya, AI dapat membantu manusia dalam mencari informasi, mengolah data, melakukan analisis, hingga menyusun berbagai bentuk dokumen dan konten.
Namun perkembangan teknologi tersebut, kata dia, tidak menghilangkan kebutuhan manusia untuk memahami manusia lainnya.
“AI dapat membantu manusia mencari informasi, membuat analisis, menyusun dokumen, mengolah data, bahkan menghasilkan berbagai bentuk konten. Namun keputusan mengenai kepentingan siapa yang harus diprioritaskan, bagaimana sebuah kebijakan diterima masyarakat, bagaimana dua pihak yang berseberangan membangun kepercayaan, dan bagaimana konflik diselesaikan tetap membutuhkan peran dan interaksi manusia,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan teknis tetap penting, tetapi kemampuan membaca manusia, berkomunikasi, membangun kepercayaan, melakukan negosiasi, dan mengelola konflik juga akan semakin menentukan di tengah perkembangan teknologi.
“Teknologi meningkatkan kemampuan manusia. Ia tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan untuk memahami manusia,” katanya.
Muhammad Sirod memandang perjalanan akademik dan profesionalnya sebagai rangkaian pengalaman yang saling berhubungan.
Ia memulai perjalanan dari bidang agroindustri, kemudian bekerja sebagai profesional, terlibat dalam industri air, membangun bisnis, memimpin perusahaan, aktif dalam organisasi, memperdalam komunikasi dan media sosial, hingga akhirnya mempelajari resolusi konflik.
Baginya, perjalanan tersebut tidak harus selalu dimasukkan ke dalam satu kotak identitas profesional.
“Kalau semua fase tersebut harus dimasukkan ke dalam satu kotak, mungkin akan sulit dipahami nyambungnya di mana. Namun saya tidak lagi merasa perlu memasukkannya ke dalam satu kotak,” ujarnya.
Ia menilai dunia masa depan membutuhkan orang yang tidak hanya memiliki kompetensi mendalam dalam satu bidang, tetapi juga mampu menghubungkan berbagai disiplin ilmu.