• Sabtu, 10 Oktober 2026

AS Serang Pulau Larak Iran, Konflik Ancam Selat Hormuz dan Harga Minyak

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Rabu, 2 September 2026 | 07:46 WIB
AS Serang Pulau Larak Iran, Konflik Ancam Selat Hormuz dan Harga Minyak
AS Serang Pulau Larak Iran, Konflik Ancam Selat Hormuz dan Harga Minyak

JAKARTA, MAHATVA.ID – Eskalasi terbaru konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai mencerminkan meningkatnya frustrasi Washington setelah tekanan melalui sanksi ekonomi belum menghasilkan perubahan perilaku Teheran seperti yang diharapkan.

Ketegangan kembali meningkat setelah Amerika Serikat menyerang Pulau Larak dan menghancurkan dua peluncur roket Iran. Serangan tersebut disebut terjadi ketika Iran diduga sedang mempersiapkan roket bermuatan ranjau untuk ditempatkan di jalur strategis Selat Hormuz.

Serangan di Pulau Larak menjadi aksi militer AS pertama yang diakui secara terbuka sejak akhir Juli 2026. Aksi tersebut sekaligus mengakhiri jeda pertempuran langsung antara kedua negara selama sekitar satu bulan.

Iran kemudian membalas dalam hitungan jam dengan meluncurkan delapan rudal ke arah pangkalan udara King Hussein dan Al Azraq di Yordania. Pemerintah Yordania mengklaim seluruh rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.

Analis keamanan maritim Ian Ralby menilai serangan Amerika Serikat terhadap Pulau Larak dapat menjadi indikasi bahwa Washington ingin mengubah situasi konflik yang dinilai stagnan.

Menurutnya, tekanan finansial dan sanksi ekonomi yang selama ini diterapkan belum mampu memberikan dampak sesuai harapan AS terhadap kebijakan Iran.

“Bisa jadi tekanan finansial tersebut tidak mampu mengubah perilaku Iran hingga ke tingkat yang diantisipasi oleh AS,” ujar Ralby.

“Status quo yang ada telah menjadi agak stagnan, dan saya yakin AS ingin melihat perubahan pada situasi tersebut,” katanya.

Ralby menilai serangan terhadap Pulau Larak kemungkinan lebih bertujuan untuk mengubah dinamika konflik dibandingkan menjadi indikasi perubahan strategi besar Amerika Serikat.

Ketegangan juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan Pulau Kharg, yang dikenal sebagai salah satu pusat utama ekspor minyak Iran.

Namun, Ian Ralby menilai ancaman tersebut kemungkinan besar lebih bersifat retorika. Serangan terhadap Pulau Kharg dinilai berpotensi menimbulkan kerusakan besar terhadap infrastruktur energi dan kawasan yang memiliki nilai penting.

Iran sendiri diperkirakan akan berupaya menghindari konfrontasi terbuka secara langsung dengan kekuatan militer AS.

Teheran disebut lebih mungkin menggunakan pola konflik asimetris melalui kelompok mitra, tekanan terhadap jalur pelayaran, serta ancaman terhadap infrastruktur energi.

“Kunci dari konflik ini sejak awal adalah sifat asimetrisnya,” kata Ralby.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X