• Senin, 12 Oktober 2026

Tanimbar di Persimpangan: Konflik Hutan Yamdena, Blok Masela, dan Budaya Badendang

Photo Author
M. Chaerudin, Mahatva.id
- Senin, 12 Oktober 2026 | 11:50 WIB
Artikel Ini dibuat dari Ringkasan Buku yang dibuat Oleh Ois Batayaman Wuritimur
Artikel Ini dibuat dari Ringkasan Buku yang dibuat Oleh Ois Batayaman Wuritimur

Keberhasilan Blok Masela karena itu perlu dilihat bukan hanya dari kapasitas produksi dan nilai investasi, melainkan juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat, perlindungan lingkungan, serta kesempatan generasi muda Tanimbar meningkatkan kualitas hidup tanpa kehilangan akar budayanya.

Badendang Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda

Di tengah perdebatan mengenai hutan dan pembangunan energi, persoalan lain muncul dari ranah kebudayaan.

Badendang, tarian rakyat khas Tanimbar yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat, menghadapi tantangan akibat modernisasi dan menurunnya minat sebagian generasi muda.

Tarian ini melibatkan banyak orang dan biasanya diiringi lagu serta pantun khas daerah. Selain menjadi ekspresi seni, Badendang merupakan ruang perjumpaan sosial yang memperkuat kebersamaan masyarakat.

Seorang warga Saumlaki, Tina, menilai pelestarian budaya membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat, termasuk kaum muda.

“Sebagian masyarakat masih memiliki pola pikir yang menganggap tradisi badendang sebagai sesuatu yang kampungan dan tidak kekinian. Akibatnya, muncul rasa malu dan kecenderungan melupakan budaya sendiri,” ujarnya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pelestarian budaya bukan hanya berkaitan dengan tersedianya dokumentasi atau pertunjukan, melainkan juga cara generasi muda memandang warisan leluhur mereka.

Perkembangan teknologi digital sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan Badendang melalui dokumentasi, rekaman musik, video, dan media sosial.

Namun, digitalisasi tidak cukup jika tradisi hanya tersimpan dalam rekaman tanpa dipraktikkan. Keberlangsungan Badendang membutuhkan orang-orang yang bersedia menari, menyanyikan pantun, mempelajari irama, dan mewariskan pengetahuan tersebut kepada generasi berikutnya.

Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, masyarakat, pelaku seni, dan generasi muda memiliki peran dalam menciptakan ruang agar tradisi ini tetap hidup.

Menjadi modern tidak harus berarti meninggalkan budaya sendiri. Teknologi justru dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan tradisi sekaligus memperkuat identitas lokal.

Duan Lolat dan Masa Depan Tanimbar

Kabupaten Kepulauan Tanimbar memperingati hari jadinya yang ke-27 pada 5 Oktober 2026. Dalam Rapat Paripurna DPRD, Bupati Ricky Jauwerissa menyebut momentum tersebut sebagai kesempatan mengevaluasi capaian pembangunan sekaligus mengidentifikasi pekerjaan yang masih harus diselesaikan.

Kabupaten ini terbentuk pada 4 Oktober 1999 dengan harapan menghadirkan pemerintahan dan pembangunan yang semakin dekat dengan masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: M. Chaerudin

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X