BOGOR, MAHATVA.ID – Asosiasi Pemasok Energi, Batubara, dan Mineral Indonesia (ASPEBINDO) mendorong percepatan kerja sama antara IPB University dan PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dalam pengembangan biomassa.
Dorongan tersebut dinilai penting untuk memastikan pengembangan tanaman energi tidak hanya menghasilkan pasokan bagi pembangkit listrik, tetapi juga memberikan kepastian pasar dan pendapatan bagi petani yang telah melakukan budidaya.
Dewan Pakar ASPEBINDO, Muhammad Sirod, melanjutkan penjajakan kerja sama dengan Dr. Meika Syahbana Rusli dari Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB University, Kamis (1/10/2026).
Pertemuan tersebut membahas peluang menghubungkan kapasitas riset, budidaya tanaman energi, pendampingan petani, pembiayaan, hingga kebutuhan bahan baku pembangkit listrik berbasis biomassa.
Penjajakan tersebut diarahkan untuk membangun model kerja sama yang menghubungkan kapasitas riset IPB University dengan kebutuhan rantai pasok PLN EPI.
Sirod melihat IPB dapat berperan sebagai mitra pendamping dalam pengembangan biomassa dari sisi hulu, khususnya melalui penguasaan teknologi budidaya, pemilihan varietas, peningkatan produktivitas lahan, serta penguatan kelembagaan petani.
Pengalaman SBRC IPB dalam program biomassa bersama PLN Group menjadi salah satu landasan pengembangan model tersebut.
Pada 2024, pengembangan biomassa dilakukan melalui program biocofiring untuk PLTU Adipala, Cilacap, dengan memanfaatkan tanaman gamal dan kaliandra yang dibudidayakan masyarakat. Program serupa juga dilakukan di wilayah Cinangka, Serang, Banten, untuk mendukung kebutuhan PLTU Banten II Labuan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan biomassa berbasis masyarakat telah memiliki pengalaman budidaya dan pendampingan. Tantangan berikutnya adalah memastikan keberlanjutan rantai pasok mulai dari penanaman hingga penyerapan hasil.
Petani membutuhkan kepastian pasar, sedangkan pembangkit membutuhkan pasokan yang memenuhi standar kualitas, volume, jadwal, dan biaya pengiriman.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam penjajakan lanjutan dengan SBRC IPB.
Sejumlah petani binaan dilaporkan telah menanam varietas tanaman energi yang direkomendasikan untuk mendukung kebutuhan bahan baku pembangkit. Namun, tindak lanjut kemitraan dengan pihak terkait dinilai masih membutuhkan percepatan.
Kondisi tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemetaan status tanaman, kesiapan panen, proses pengadaan, serta komunikasi dengan pihak yang memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan.
Bagi petani, keterlambatan kepastian kemitraan memiliki konsekuensi ekonomi. Penanaman membutuhkan biaya bibit, tenaga kerja, pemeliharaan, serta penggunaan lahan.