• Kamis, 8 Oktober 2026

‎Aksi Humanis Babinsa Sifnana: Teguran Hangat yang Menyelamatkan Masa Depan Generasi Muda Tanimbar

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Jumat, 2 Oktober 2026 | 13:35 WIB
‎Aksi Humanis Babinsa Sifnana: Teguran Hangat yang Menyelamatkan Masa Depan Generasi Muda Tanimbar
‎Aksi Humanis Babinsa Sifnana: Teguran Hangat yang Menyelamatkan Masa Depan Generasi Muda Tanimbar

‎MAHATVA.ID -Mentari sore di kawasan Terminal Pasar Baru Omele, Saumlaki, Jumat (2/10/2026) pukul 15.00 WIT, tidak seperti biasanya. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas warga, sebuah pemandangan kontras terlihat di sudut terminal.
‎
‎Sekelompok pelajar, yang seharusnya sudah berada di rumah untuk beristirahat atau belajar, justru asyik berkumpul dalam lingkaran yang tidak semestinya.
‎
‎Bukan buku atau tas sekolah yang menjadi pusat perhatian mereka, melainkan tumpukan kartu yang diduga kuat mengarah pada aktivitas perjudian. Di saat itulah, sosok Bintara Pembina Desa (Babinsa) Sifnana, Yusuf Rahanwati, hadir memberikan teladan nyata tentang apa itu kepedulian.
‎
‎Pendekatan Hati: Bukan Sekadar Membubarkan, Tapi Membina
‎
‎Tanpa intimidasi, Babinsa Yusuf Rahanwati melangkah mendekat. Kehadirannya bukan untuk menebar rasa takut, melainkan untuk membawa pesan mendalam bagi para tunas muda Kepulauan Tanimbar tersebut.
‎
‎Dengan pendekatan yang persuasif dan humanis, ia memberikan edukasi bahwa setiap detik yang dihabiskan untuk aktivitas negatif adalah langkah mundur bagi masa depan mereka.
‎
‎"Dunia kalian adalah dunia belajar dan mengejar mimpi. Jangan biarkan permainan kartu yang terlihat sepele hari ini, merusak karakter dan integritas kalian di masa depan," pesan bijak sang Babinsa.
‎
‎Edukasi ini menjadi krusial. Babinsa menekankan bahwa pergaulan yang salah adalah benih awal dari perilaku menyimpang yang lebih besar.
‎
‎Bahaya Laten di Balik Permainan Kartu
‎

‎Dalam dunia pendidikan karakter, permainan kartu bukan sekadar soal menang atau kalah. Ketika unsur taruhan masuk, ia berubah menjadi ancaman serius bernama perjudian.
‎
‎Selain berpotensi melanggar hukum, aktivitas ini secara perlahan mengikis mentalitas kerja keras siswa dan menggantinya dengan harapan kosong pada keberuntungan.
‎
‎Kehadiran Babinsa Yusuf di lokasi menjadi pengingat keras bagi kita semua bahwa ruang publik membutuhkan "mata" sosial. Pengawasan bukan berarti mengekang kebebasan, melainkan memastikan bahwa anak-anak kita tetap berada di jalur yang aman.
‎

‎Panggilan Kolaborasi: Rumah, Sekolah, dan Lingkungan
‎
‎Peristiwa di Pasar Baru Omele ini menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat. Babinsa Yusuf Rahanwati telah menjalankan perannya sebagai benteng sosial, namun perjuangan ini tidak bisa dilakukan sendirian.
‎
‎Tanggung jawab besar kini berada di pundak kita semua:
‎1.  Orang Tua: Sebagai madrasah pertama, wajib memantau aktivitas anak pasca-jam sekolah.
‎2.  Sekolah: Terus memperkokoh pendidikan karakter dan pemahaman risiko pergaulan bebas.
‎3.  Masyarakat: Menjadi pengawas yang edukatif, berani menegur dengan kasih sayang tanpa harus menghakimi.
‎
‎Kejadian ini bukan sekadar tentang sekelompok siswa yang bermain kartu, melainkan sebuah momentum evaluasi bersama. Sudahkah kita menciptakan ruang publik yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak-anak kita?
‎
‎Dari Saumlaki kita belajar: Satu teguran peduli hari ini, bisa menyelamatkan satu pemimpin bangsa di masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

Terpopuler

X