JAKARTA, MAHATVA.ID — Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menegaskan bahwa ketahanan nasional berawal dari kemandirian di sektor-sektor strategis, terutama pangan dan energi.
Hal tersebut disampaikan Sugiono dalam Pernyataan Nasional Indonesia pada Debat Umum Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Sabtu (26/9/2026) waktu setempat.
Dalam pidatonya, Sugiono menjelaskan bahwa ketahanan sebuah bangsa dimulai dari kekuatan di dalam negeri. Hal itu tercermin dari kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan rumah tangga, petani mempertahankan produksi, hingga pekerja memperoleh pekerjaan yang layak.
“Bagi Indonesia, ini berarti membangun kemandirian pangan yang lebih besar dan memperkuat ketahanan energi kita. Yang terpenting, ini juga berarti berinvestasi pada masa depan rakyat kita,” tegas Sugiono.
Sugiono mengatakan penguatan ketahanan domestik tidak hanya memberikan manfaat bagi Indonesia, tetapi juga dapat meningkatkan kontribusi Indonesia terhadap kawasan dan dunia.
Menurutnya, kemampuan Indonesia menjaga ketersediaan pangan di dalam negeri dapat membuka ruang bagi kontribusi yang lebih besar terhadap ketahanan pangan regional dan global.
“Indonesia yang aman pangannya dapat berkontribusi lebih banyak terhadap ketahanan pangan regional dan global,” papar Sugiono.
Selain pangan, ia menempatkan ketahanan energi sebagai bagian penting dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi dinamika energi dunia.
“Indonesia yang lebih tangguh energinya dapat berkontribusi lebih banyak pada transisi energi global,” ujarnya.
Selain membahas ketahanan nasional, Sugiono menyoroti pentingnya sistem multilateral yang mampu menghadapi berbagai gejolak dan kompetisi global.
Menurutnya, institusi serta mekanisme kerja sama internasional harus mampu beradaptasi terhadap perubahan, responsif terhadap persoalan yang muncul, dan menghasilkan solusi yang dapat dirasakan masyarakat.
“Sistem multilateral yang tidak dapat memberikan hasil akan kehilangan kepercayaan rakyat. Dan tanpa kepercayaan, multilateralisme tidak akan pernah bertahan,” pungkasnya.
Tema Sidang Majelis Umum PBB ke-81 adalah “Restoring Trust, Managing Transformation: A United Nations That Delivers for All”. Tema tersebut menempatkan pemulihan kepercayaan dan kemampuan sistem internasional menghadapi perubahan sebagai bagian penting agenda PBB.
Dengan demikian, pesan yang disampaikan Indonesia di forum PBB tersebut menempatkan penguatan ketahanan di dalam negeri—termasuk pangan dan energi—sebagai bagian dari upaya memperbesar kontribusi Indonesia terhadap ketahanan kawasan, global, dan sistem multilateralisme.