“Jurnalis memang dituntut hadir untuk memberikan informasi kepada publik. Tetapi keberanian meliput tidak boleh berarti mempertaruhkan nyawa. Tidak ada satu pun berita yang nilainya lebih tinggi daripada keselamatan manusia,” tegasnya.
Dedy mengatakan peristiwa hilang kontaknya lima jurnalis bersama tiga kru speedboat tersebut menjadi pengingat penting bagi insan pers mengenai risiko dalam menjalankan profesi jurnalistik.
Menurutnya, profesionalisme jurnalistik bukan hanya menyangkut keberanian, kecepatan, dan kemampuan memperoleh informasi, tetapi juga kesiapan dalam memperhitungkan serta menghadapi risiko ketika berada di lapangan.
“Berita bisa ditunda, tetapi nyawa tidak bisa digantikan. Kami berharap seluruh jurnalis dan kru speedboat segera ditemukan dan kembali kepada keluarga dalam keadaan selamat,” ujarnya.
Hingga kini, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap delapan orang yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Lima jurnalis tersebut sebelumnya berangkat bersama tiga kru speedboat untuk menjalankan tugas peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Doa dan dukungan dari kalangan insan pers terus mengalir, sembari menunggu hasil pencarian tim SAR dan kabar keselamatan seluruh orang yang masih dalam pencarian.