Trunoyudo mengatakan, pola pencarian disusun berdasarkan berbagai informasi dan kondisi terkini di lapangan.
“Pencarian dilakukan secara sistematis berdasarkan sektor dan koordinat dengan mempertimbangkan posisi terakhir kapal, arah angin, arus, gelombang, cuaca dan perkembangan informasi di lapangan. Setiap unsur bekerja sesuai kemampuan masing-masing dan saling memperkuat dalam satu operasi SAR gabungan,” jelasnya.
Petugas juga mengamati berbagai kemungkinan petunjuk yang dapat membantu menemukan keberadaan KM Arupadatu 1 maupun delapan orang yang masih dalam pencarian.
Petunjuk tersebut antara lain keberadaan orang, bagian kapal, perlengkapan keselamatan, hingga benda lain yang berpotensi berkaitan dengan kapal yang hilang kontak.
Operasi pencarian hari ketiga melibatkan lebih dari 280 personel gabungan.
Selain Polri dan Basarnas, unsur yang terlibat meliputi TNI, Bakamla, KSOP, BPBD, unsur kewilayahan, potensi SAR, nelayan, masyarakat, media, serta keluarga orang yang masih dalam pencarian.
Sejumlah sarana juga dikerahkan untuk mendukung operasi, mulai dari kapal SAR, kapal patroli, rigid inflatable boat (RIB), dukungan udara, drone thermal, peralatan medis, perangkat komunikasi, hingga kendaraan pendukung di darat.
“Polri berkolaborasi dengan Basarnas, TNI, Bakamla, KSOP, BPBD dan seluruh potensi SAR lainnya. Lebih dari 280 personel gabungan serta berbagai sarana pencarian dan pendukung dikerahkan pada hari ketiga. Seluruh kekuatan tersebut dioptimalkan untuk memperbesar peluang menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian,” kata Trunoyudo.
Polri mengimbau masyarakat, nelayan, maupun pihak lain yang memiliki informasi mengenai keberadaan KM Arupadatu 1 atau delapan orang yang masih dalam pencarian untuk segera menyampaikannya kepada petugas.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pencarian secara mandiri, khususnya dengan memasuki wilayah operasi atau perairan sekitar Gunung Anak Krakatau tanpa koordinasi dengan tim SAR.
“Kami mengajak masyarakat untuk membantu melalui koordinasi dengan petugas. Jika memiliki informasi, segera sampaikan kepada Basarnas, Polri atau aparat berwenang. Jangan mengambil tindakan sendiri, karena kondisi laut dan kawasan Gunung Anak Krakatau memiliki risiko yang harus diperhitungkan,” pungkas Trunoyudo.