BOGOR, MAHATVA.ID – Komitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pemasyarakatan kembali ditunjukkan Lapas Khusus Kelas IIB Sentul.
Kepala Sub Seksi Keamanan Lapas Khusus Kelas IIB Sentul, Heru Suryanto, resmi menyandang gelar Magister Pertahanan setelah mengikuti Sidang Senat Terbuka Wisuda Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) di Aula Merah Putih, Kawasan IPSC Sentul, Bogor, Kamis (3/9/2026).
Pada prosesi tersebut, Unhan RI mewisuda 746 lulusan, terdiri atas 6 wisudawan program doktor, 344 program magister, 221 program sarjana, dan 175 program diploma.
Dalam sambutannya, Wakil Menteri Pertahanan RI Marsekal TNI (Purn.) Donny Ermawan T., M.D.S., M.S.P. menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan awal dari pengabdian yang lebih besar kepada bangsa dan negara melalui integritas, peningkatan kompetensi, serta semangat nasionalisme.
Bagi Heru, capaian akademik tersebut memiliki makna lebih dari sekadar memperoleh gelar magister.
Sebagai pejabat yang membidangi keamanan di Lapas Khusus Kelas IIB Sentul, Heru memiliki tanggung jawab menjaga stabilitas keamanan lembaga pemasyarakatan sekaligus mendukung pelaksanaan pembinaan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), termasuk narapidana kasus terorisme.
Tugas tersebut menuntut pemahaman yang tidak hanya berorientasi pada aspek pengamanan, tetapi juga strategi pembinaan yang mampu mendorong perubahan perilaku serta mengurangi risiko radikalisasi ulang.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Heru mengangkat penelitian mengenai penanggulangan terorisme di wilayah pascakonflik melalui studi kasus Poso sebagai tesis pada Program Magister Universitas Pertahanan RI.
Penelitian itu mengkaji hubungan antara konflik komunal, munculnya radikalisasi, peran negara dalam penanggulangan terorisme, serta pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mendukung keberhasilan deradikalisasi dan reintegrasi sosial mantan narapidana terorisme.
Lapas Khusus Kelas IIB Sentul selama ini menjalin kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam penyelenggaraan program pembinaan terhadap narapidana terorisme.
Sinergi tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan pembinaan kepribadian, penguatan wawasan kebangsaan, pembinaan keagamaan, serta program deradikalisasi yang bertujuan membangun perubahan pola pikir dan perilaku WBP.
Kolaborasi antara BNPT dan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan menjadi bagian dari strategi penanggulangan terorisme yang menempatkan pembinaan dan reintegrasi sosial sebagai aspek penting dalam mempersiapkan narapidana terorisme kembali ke tengah masyarakat.
Heru menilai pendidikan di Unhan RI turut memperluas perspektifnya dalam melihat berbagai tantangan keamanan nasional.
Menurutnya, terorisme tidak dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan penegakan hukum, tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial, pendidikan, ideologi, serta ketahanan masyarakat.