“Kami sangat mengapresiasi Pemerintah Desa Situsari dan seluruh masyarakat yang terus mempertahankan tradisi Sedekah Bumi. Ini bukan hanya tentang budaya, tetapi juga tentang kebersamaan, gotong royong dan rasa syukur masyarakat,” kata Adi Henryana.
Menurutnya, pelestarian budaya harus dilakukan secara bersama-sama dan melibatkan generasi muda agar kesenian tradisional tetap memiliki ruang di tengah perkembangan zaman.
“Wayang Golek, Jaipong dan berbagai kesenian Sunda lainnya merupakan kekayaan yang harus kita jaga. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dan semakin berkembang, sehingga generasi muda memiliki kebanggaan terhadap budaya daerahnya,” ujarnya.
Pelaksanaan Sedekah Bumi Desa Situsari turut dihadiri Kepala Desa Situsari Dahlan, Camat Cileungsi Adi Henryana, Danramil, Kapolsek, Sekretaris Desa, BPD, LPM, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Binwil, jajaran perangkat desa, kepala dusun, RT dan RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta masyarakat Desa Situsari.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya dukungan terhadap kegiatan yang tidak hanya menjadi agenda kebudayaan, tetapi juga menjadi ruang bertemunya seluruh elemen masyarakat dalam suasana penuh keakraban.
Bagi masyarakat Desa Situsari, Sedekah Bumi memiliki makna yang lebih luas. Tradisi tersebut menjadi wadah untuk mengungkapkan rasa syukur, memperkuat gotong royong, menjaga silaturahmi, sekaligus mempertahankan identitas budaya Sunda.
Dengan perpaduan prosesi adat, arak-arakan Dongdang, Wayang Golek, dan tari Jaipong, Sedekah Bumi Desa Situsari tahun ini tidak hanya menghadirkan kemeriahan. Kegiatan tersebut juga menyampaikan pesan bahwa kemajuan desa dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan kearifan lokal.
Pemerintah Desa Situsari berharap tradisi tersebut terus dipertahankan, dikembangkan, dan menjadi agenda budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat identitas Desa Situsari sebagai bagian dari masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan gotong royong.