Selain itu, Tencent, Greenwoods, Taikang Life, serta UBS Asset Management juga turut mengambil bagian dalam IPO tersebut.
Keterlibatan investor-investor besar ini dapat menjadi salah satu indikator bahwa Shein masih memiliki daya tarik di mata sebagian investor institusional.
Shein berencana menggunakan sekitar 80 persen dana hasil IPO untuk meningkatkan teknologi serta memperluas merek dan kehadiran global perusahaan.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa Shein masih ingin mempertahankan ekspansi internasional meskipun menghadapi tekanan tarif dan regulasi.
Investasi teknologi juga menjadi penting karena persaingan industri fast fashion semakin bergeser ke arah efisiensi rantai pasok, kecerdasan buatan, analisis data konsumen, hingga personalisasi produk.
Dengan dana segar dari pasar modal, Shein berharap dapat memperkuat posisi globalnya dan kembali mendorong pertumbuhan.
Shein dijadwalkan mengumumkan harga final IPO pada 31 Agustus 2026.
Sehari setelahnya, pada 1 September 2026, saham Shein akan mulai diperdagangkan di Bursa Hong Kong.
Momen tersebut akan menjadi salah satu ujian terbesar bagi perusahaan setelah bertahun-tahun menjadi salah satu perusahaan teknologi dan ritel dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Pertanyaan terbesar investor bukan lagi sekadar berapa banyak uang yang bisa dihimpun Shein.
Pertanyaannya adalah:
Apakah Shein masih mampu tumbuh seperti dulu?
Sebab perusahaan yang pernah hampir dihargai US$100 miliar kini datang ke bursa dengan valuasi sekitar US$27 miliar.
Jatuhnya valuasi memang menjadi pukulan.
Tetapi IPO Hong Kong bisa menjadi kesempatan bagi Shein untuk membuktikan bahwa cerita pertumbuhannya belum selesai.