Bogor, MAHATVA.ID - Kabar meninggalnya H. Subagio begitu mengagetkan wartawan se-Kota/Kabupaten Bogor pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Mantan Ketua PWI Kabupaten Bogor dua periode tersebut meninggal dunia setelah berjuang melawan sakit yang dideritanya.
Di mata saya, H. Bagio bukan sekadar teman dan kawan. Ia juga pernah menjadi lawan saya dalam pemilihan Ketua PWI Kabupaten Bogor untuk periode 2018–2021 dan 2021–2024. Namun, perbedaan pilihan dalam organisasi tidak pernah menghilangkan rasa persahabatan dan penghormatan saya kepada almarhum.
Almarhum H. Bagio merupakan sosok yang konsisten menjaga marwah profesi wartawan agar tetap bermartabat, khususnya di Kabupaten Bogor. Ia selalu menanamkan kepada wartawan yang tergabung di PWI Kabupaten Bogor agar menjunjung tinggi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Kode Etik Jurnalistik.
Untuk mengejawantahkan prinsip tersebut, pada masa kepemimpinannya almarhum rutin menggelar safari jurnalistik ke berbagai kecamatan dan desa di Kabupaten Bogor.
Almarhum selalu mengajak saya untuk menjadi bagian dari kepengurusan PWI Kabupaten Bogor dan bersama-sama mengemban amanah organisasi. Dalam kegiatan safari jurnalistik, ia pun kerap meminta saya mendampinginya.
Dalam setiap safari jurnalistik, H. Bagio selalu membawakan materi mengenai UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Ia tegas ketika berbicara mengenai pelanggaran profesi.
“Wartawan itu tidak kebal hukum. Bila melanggar UU Nomor 40 dan kode etik, bisa kena jerat hukum juga,” kata almarhum yang dikenal sebagai wartawan senior Harian Internasional Media tersebut.
Bagi saya, pesan itu menunjukkan bagaimana almarhum memahami profesi wartawan. Kebebasan pers, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab, etika, ilmu, dan akhlak.
Pelopor Jurnalisme yang Beradab dan Religius
H. Bagio juga merupakan salah satu sosok yang mendorong jurnalisme berlandaskan adab dan nilai-nilai agama, khususnya di lingkungan PWI Kabupaten Bogor.
Setiap Rabu, almarhum secara rutin mengadakan pengajian di Sekretariat PWI Kabupaten Bogor. Konsistensi tersebut kemudian melahirkan Majelis Ta’lim (MT) Al-Ikhbar PWI Kabupaten Bogor.
Kegiatan majelis tidak berhenti pada pengajian. MT Al-Ikhbar juga secara konsisten memberikan perhatian kepada anak-anak yatim, terutama pada momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram, Hari Asyura 10 Muharram, serta Hari Pers Nasional (HPN).
“ Hidup ini sebentar, jadi kita harus memperbanyak amal ibadah untuk bekal kita di akhirat,” kata H. Bagio kepada saya ketika mengajak mengikuti pengajian di Sekretariat PWI Kabupaten Bogor yang kala itu masih berada di Gedung Pusdai Kabupaten Bogor.
Kalimat sederhana itu kini terasa begitu dalam.
Perjalanan ke Bandung yang Tak Pernah Saya Lupakan
Ada satu perjalanan bersama almarhum yang sampai kapan pun akan selalu saya kenang.