Akses Penerbangan Masih Menjadi Kunci
Di balik besarnya potensi budaya dan pariwisata Papua Selatan, terdapat persoalan yang tidak bisa diabaikan: konektivitas.
Jarak geografis dan biaya perjalanan masih menjadi tantangan bagi wisatawan dari luar Papua Selatan yang ingin berkunjung.
Soleman berharap semakin terbukanya akses penerbangan dapat memperkuat konektivitas sekaligus mendorong penurunan biaya perjalanan.
“Pesawat maksimal, jadi saudara-saudara mau ke sana masih ada pesawat. Kita berharap dengan terbukanya penerbangan masuk, mudah-mudahan mulai turun (biayanya),” katanya.
Persoalan akses menjadi penting karena promosi destinasi akan kehilangan daya dorong apabila wisatawan kesulitan mencapai lokasi.
Karena itu, pembangunan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan promosi. Infrastruktur transportasi dan konektivitas harus berjalan beriringan dengan agenda promosi budaya.
Hotel Disebut Siap, Tinggal Mendatangkan Pasarnya
Dari sisi akomodasi, Soleman menyebut Papua Selatan telah memiliki fasilitas penginapan yang dapat menunjang kunjungan wisatawan.
Hotel berbintang maupun fasilitas penginapan lainnya dinilai telah tersedia untuk menerima wisatawan yang datang.
Artinya, sebagian infrastruktur dasar untuk mendukung aktivitas pariwisata telah tersedia.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana mendatangkan wisatawan secara konsisten dan memastikan belanja wisatawan tersebut benar-benar mengalir ke masyarakat lokal.
Di titik inilah pemerintah daerah dituntut tidak hanya menjadi penyelenggara festival, tetapi juga menjadi penghubung antara pelaku usaha, industri pariwisata, pasar, dan wisatawan.
Empat Tahun Papua Selatan: Saatnya Potensi Berubah Menjadi Nilai
Papua Selatan sebagai provinsi baru memiliki modal besar: budaya, kerajinan, sumber daya alam, serta bentang alam yang memiliki daya tarik wisata.
Tetapi modal tersebut tidak otomatis berubah menjadi kesejahteraan.