Pemblokiran Selat Hormuz juga telah menimbulkan dampak terhadap pasar energi global. Gangguan pada jalur tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar sekaligus meningkatkan tekanan terhadap perekonomian dunia.
Situasi tersebut juga menjadi perhatian politik bagi Trump menjelang pemilihan umum paruh waktu Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada November.
Trump Pilih Pendekatan Lebih Tenang
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Trump sempat melontarkan ancaman akan melakukan serangan keras terhadap Iran. Namun, ancaman tersebut kemudian ditarik kembali seiring munculnya sinyal bahwa jalur diplomasi masih terbuka.
Pada akhir pekan lalu, Trump mengatakan dirinya mengambil pendekatan yang lebih “tenang” dalam menghadapi konflik tersebut.
Pernyataan itu mengindikasikan bahwa Washington dapat memilih mempertahankan tekanan ekonomi dibandingkan meningkatkan serangan militer.
Media digital Axios sebelumnya melaporkan bahwa dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada Minggu, Trump tidak menunjukkan frustrasi secara terbuka terhadap keputusan Iran yang menunda kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun, tuntutan kompensasi yang kini disampaikan Trump menunjukkan bahwa posisi kedua negara masih memiliki perbedaan mendasar.
Dengan tuntutan ganti rugi yang semakin luas, pembukaan kembali jalur diplomasi antara Washington dan Teheran diperkirakan akan menghadapi tantangan lebih besar.
Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada kemampuan kedua pihak menemukan titik temu, terutama terkait kompensasi, sanksi ekonomi, blokade pelabuhan Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.