OPINI: Petrus. L
MAHATVA.ID -Sambil Mama bakar sagu, Mama menyanyi lagu buju-buju. Sampai beta besar begini, beta seng lupa Mama.
Sepenggal lirik lagu Maluku itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah potret sederhana tentang seorang mama yang membesarkan anak dengan keterbatasan, kasih sayang, doa, dan pengorbanan yang sering kali tak pernah dihitung dengan angka.
Di dapur sederhana, ketika asap tungku mengepul dan sagu dibakar, seorang mama mungkin tidak pernah berpikir anaknya kelak akan menjadi pejabat, sarjana, pengusaha, aparat, profesional, atau seseorang yang dikenal hingga tingkat global.
Yang ada dalam pikirannya mungkin hanya satu: anaknya harus tumbuh lebih baik daripada dirinya.
Mama bekerja. Ia berdoa. Menahan lapar, menyisihkan kebutuhan sendiri. Bahkan ketika biaya sekolah terasa berat, perempuan itu tetap berjuang, sebisa mungkin memastikan pendidikan anaknya tidak terhenti.
Ada pakaian yang mungkin tidak dibeli untuk dirinya agar uang sekolah anak tetap terbayar.
Ada makanan yang mungkin dikurangi agar anak bisa makan lebih kenyang.
Ada lelah yang disembunyikan di balik senyum.
Dan ada air mata yang sengaja tidak diperlihatkan kepada anak.
Semua dilakukan karena satu keyakinan: suatu hari nanti, anak itu akan tumbuh dan menjadi manusia yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Namun, pertanyaan pahitnya adalah: setelah anak itu berhasil, apakah ia masih mengingat tangan yang pernah mengangkatnya ketika belum mampu berdiri?
Di sinilah lagu Buju-Buju terasa semakin dalam.
Sebab kehidupan modern kadang membuat sebagian orang terlalu sibuk mengejar dunia, sampai lupa kepada rumah tempat dirinya pertama kali mengenal arti kehidupan.