Bagi Milda (26), banjir tahunan bukan hal baru. Selama 16 tahun terakhir, ia berulang kali mengungsi ke masjid yang sama karena rumahnya berada lebih rendah dari badan jalan.
“Saya kadang pertama datang (mengungsi) dan terakhir pulang,” katanya.
Keterbatasan ekonomi membuatnya belum mampu pindah ke lokasi yang lebih aman.
“Kalau dibilang setahun sekali tidak jadi masalah, pernah saya dapat 3 kali setahun bahkan saya tahun baru di sini, banjir paling parah itu tahun kemarin (2025) sisa sejengkal lagi air sudah dapat genteng rumahku,” kenangnya.
Di tengah keterbatasan, Masjid Raya Jabal Nur tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang bertahan hidup bagi warga terdampak. Di sana, para penyintas menata ulang harapan sambil menunggu rumah mereka benar-benar kering dan aman untuk kembali dihuni.