• Selasa, 20 Oktober 2026

Ramadan di Pengungsian, Kisah Warga Korban Banjir Makassar Bertahan di Masjid

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Senin, 2 Maret 2026 | 22:04 WIB
Ramadan di Pengungsian, Kisah Warga Korban Banjir Makassar Bertahan di Masjid
Ramadan di Pengungsian, Kisah Warga Korban Banjir Makassar Bertahan di Masjid

MAHATVA.ID – Banjir yang merendam Blok 10 Perumnas Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, mulai surut setelah lima hari. Namun, sebagian warga masih memilih bertahan di karena rumah mereka belum sepenuhnya kering dan layak ditempati.

Pantauan di lokasi pada Minggu (1/3/2026) siang, aktivitas warga mulai kembali terlihat. Jalan Kecaping yang menghubungkan Blok 8 dan Blok 10 sudah bisa dilalui meski genangan setinggi mata kaki masih tersisa di beberapa titik. Warga tampak membersihkan rumah dan perabotan dari sisa lumpur, sementara pedagang sayur keliling kembali beroperasi.

Di pelataran masjid yang menjadi pusat pengungsian, sebanyak 14 kepala keluarga atau 45 jiwa masih bertahan. Mereka terdiri atas 30 orang dewasa, tujuh anak-anak, empat balita, satu lansia perempuan, dan satu ibu hamil. Data tersebut tercatat di papan informasi posko pengungsian.

Salah satu pengungsi, Ayu (20), yang tengah hamil tua, telah berada di lokasi sejak Rabu pagi saat banjir mencapai puncaknya.

“Sejak rabu pagi saya di sini,” ucap Ayu yang mengenakan daster cokelat motif bunga.

Ia mengaku hampir setiap tahun harus mengungsi, namun kali ini terasa lebih berat karena kondisi kehamilannya yang memasuki bulan terakhir.

“Kata dokter, akhir Maret sudah melahirkan,” jawabnya saat diperiksa tim kesehatan. Selama di pengungsian, Ayu mengeluhkan nyeri pada lutut. “Lututku sering sakit,” ujarnya.

Usai pemeriksaan, petugas menyarankan agar ia tidak banyak bergerak atau melakukan aktivitas berat selama masa pengungsian.

Tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Makassar datang untuk memantau kondisi para penyintas, terutama kelompok rentan seperti balita, lansia, dan ibu hamil. Pemeriksaan dilakukan langsung di pelataran masjid, tempat para pengungsi beristirahat dengan alas karpet busa yang dibentangkan berjajar.

Koordinator pengungsi, Hamsina (44), mengatakan bantuan makanan disalurkan dua kali sehari karena banjir terjadi bertepatan dengan Ramadan.

“Kalau sahur dan buka puasa makanannya disediakan oleh dinas sosial,” ungkapnya.

Pada malam hari, masjid tetap digunakan untuk salat tarawih, sementara para pengungsi beristirahat di bagian pelataran.

Sejak hari pertama banjir hingga Sabtu (28/2/2026), tercatat 34 kepala keluarga atau 103 jiwa sempat mengungsi. Seiring surutnya air, sebagian warga telah kembali ke rumah untuk membersihkan sisa lumpur, meski ada yang memilih kembali ke masjid karena kondisi rumah masih lembap.

“Kalau sekarang kan sudah banyak pulang karena sudah surut, jadi sekarang yang masih bertahan ada 14 KK dan 45 jiwa,” tuturnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X