• Kamis, 22 Oktober 2026

Akuisisi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Picu Perdebatan: Aset Strategis atau Beban Mahal bagi Indonesia?

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Selasa, 24 Februari 2026 | 10:36 WIB
Akuisisi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Picu Perdebatan: Aset Strategis atau Beban Mahal bagi Indonesia?
Akuisisi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Picu Perdebatan: Aset Strategis atau Beban Mahal bagi Indonesia?

Jakarta, MAHATVA.ID – Keputusan Indonesia untuk memiliki kapal induk sendiri memicu perdebatan di kalangan analis pertahanan. Sebagian menilai langkah ini sebagai strategi jangka panjang memperkuat kekuatan maritim, sementara lainnya menganggap kapal induk hanyalah simbol kekuatan yang mahal dan berisiko membebani keuangan negara.

Pemerintah Indonesia mengumumkan rencana akuisisi kapal induk Giuseppe Garibaldi melalui skema hibah dari pemerintah Italia. Kapal yang dioperasikan Angkatan Laut Italia sejak 1985 dan dinonaktifkan pada 2024 itu diperkirakan tiba di Indonesia sebelum peringatan Hari Ulang Tahun TNI pada 5 Oktober 2026.

Jika terealisasi, Indonesia akan menjadi negara kedua di Asia Tenggara setelah Thailand yang memiliki kapal induk. Di kawasan Asia, kepemilikan kapal induk saat ini terbatas pada China, India, dan Jepang.

Bagian dari Modernisasi Alutsista Era Prabowo

Akuisisi Garibaldi dipandang sebagai bagian dari agenda modernisasi militer Presiden Prabowo Subianto, yang telah mendorong penguatan alat utama sistem senjata (alutsista) sejak menjabat Menteri Pertahanan pada 2019–2024. Namun, gagasan memiliki kapal induk baru mengemuka setelah Prabowo resmi menjabat presiden pada akhir 2024.

Selama menjabat Menhan, Prabowo mengawasi pengadaan jet tempur, sistem rudal, dan kapal perang. Kepemilikan kapal induk dinilai sebagai lompatan besar dalam postur kekuatan laut Indonesia.

Pendukung: Penting bagi Negara Kepulauan

Sejumlah analis mendukung rencana tersebut. Beni Sukadis dari Indonesia Institute for Defense and Strategic Studies (Lesperssi) menilai kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan jalur pelayaran strategis membutuhkan platform seperti kapal induk.

“Kapal seperti itu mampu mendukung operasi tempur maupun non-tempur, termasuk bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana,” ujarnya.

Ia menilai kedekatan Indonesia dengan titik-titik panas regional seperti Laut China Selatan meningkatkan urgensi penguatan kekuatan laut.

Kritik: Mahal, Tua, dan Kapabilitas Terbatas

Namun, kritik juga menguat. Sejumlah pakar mengingatkan bahwa biaya operasional kapal induk sangat besar. Platform pertahanan Defence Security Asia memperkirakan biaya operasional tahunan Garibaldi berkisar antara US$50 juta hingga US$80 juta.

Dalam artikel opini di Kompas, Jannus TH Siahaan menyebut pelatihan ratusan awak kapal bisa memakan waktu bertahun-tahun, sementara selama masa transisi efektivitas tempurnya nyaris nol.

“Biaya perawatan tetap berjalan penuh, sementara usia pakai kapal yang sudah 40 tahun semakin terbatas,” tulisnya.

Tantangan Operasional

Giuseppe Garibaldi dirancang untuk mengoperasikan helikopter dan pesawat berkemampuan lepas landas vertikal seperti Harrier. Indonesia saat ini belum memiliki pesawat dengan kemampuan tersebut, sehingga fungsi tempur kapal ini dinilai terbatas.

Juru bicara Kementerian Pertahanan, Rico Ricardo Sirait, mengatakan proses negosiasi dan administrasi masih berlangsung. Pemerintah Indonesia juga harus menanggung biaya retrofit agar kapal memenuhi kebutuhan operasional TNI AL.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X