• Sabtu, 10 Oktober 2026

Kedatangan rombongan Bung Karno ke Cileungsi Pada 5 Februari 1945 Menjadi Catatan Sejarah

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Jumat, 10 November 2023 | 02:50 WIB
Kedatangan rombongan Bung Karno ke Cileungsi Pada 5 Februari 1945 Menjadi Catatan Sejarah
Kedatangan rombongan Bung Karno ke Cileungsi Pada 5 Februari 1945 Menjadi Catatan Sejarah

Mahatvamediaindonesia.id, Bogor – Terdapat catatan sejarah yang menjadi bukti perjuangan para pendekar atau jawara, ada di Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor Jawa Barat.

Hal itu mengembalikan ingatan kolektif masyarakat pada kejadian di Cileungsi tentang rapat konsolidasi yang dipimpin oleh Ir. Soekarno serta di dampingi oleh Karto Suwiryo, tokoh PNI Soewiryo, Pak Letnan Loekas, dan Sersan Oking yang saat itu ikut dihadiri oleh sejumlah tokoh ‘alim ulama, tentara pejuang, pendekar silat dan tokoh masyarakat di kediaman pak Raden Hamzah yang diselenggarakan pada hari Rabu malam tanggal 5 Februari 1945.

Kedatangan rombongan Bung Karno ke Cileungsi saat itu disambut oleh KH. Raden Abdul Kholik bin Abuya Pangeran Andeng Asari Soeriya Dinata dan Raden Hamzah.

Tokoh-tokoh yang hadir saat itu diantaranya :

1. Abuya R. H. Andeng Asari Soeriya Dinata
2. Kiyai Tubagus Muhammad Falak Bogor
3. Kiyai Tubagus Khotib Serang Banten
4. Kiyai R. Muhammad Nawawi Cibarusah
5. Kiyai R. Hasbullah Cimande
6. Kiyai R. Ama Teungku Karawang
7. Kiyai R. Ama Jenggot Karawang
8. Pak Nawawi Soeryadi Karawang
9. Pak Djali Tanjung Priuk
10. Pak Nur Aly Bekasi
11. Pak Darip Klender
12. Pak Hoeru Bandung
13. Pak Sambas Bandung
14. Pak Soleh Iskandar Bogor Leuwiliang
15. Pak Bongkot/Ujang Sawangan Pendekar
16. Pak Hideung Gunung Sindur
17. Pak Sanusi Serang Banten
18. Pak Jumir Sawangan-Parung
19. Kiyai Tubagus Hasbullah Banten
20. Pak Sobari Cikampek Pendekar
21. Pak Raden Rusdi Subang Pendekar

-
Arsip Salah Seorang Warga Citereup

Revolusi Kemerdekaan Indonesia.

Pasca kemerdekaan suasana Republik Indonesia semakin memanas dengan kembalinya tentara penjajah bersamaan dengan sekutunya, belom lagi di tambah bangkitnya penghianat bangsa yang masih setia kepada pasukan kolonial yang aktif bergerak demi mendapatkan jabatan dan kekuasaan, sedangkan Indonesia yang baru saja lahir belum memiliki kekuatan dari segi pertahanan militer.

Sebab itulah kemudian membuat jago lokal yang patriot serta memiliki pasukan yang banyak dilirik guna membantu mempertahankan tiap-tiap wilayah. Contohnya antara lain Pak Macem, Haji Darip, Kiai Nurali, Camat Nata, Haji Djhole, dan Bang Pi-ie.

Lasykar Rakyat Jakarta Raya, misalnya, beraliansi dengan Pak Macem, Haji Darip, K.H. Nurali, dan Camat Nata yang terkenal berani dalam menghadapi penjajah. Sayang para jawara tersebut lebih terkenal dengan cap sebagai kaum kriminalitas sebagai perampok, pembunuh, pemerkosa, teroris dan cap cap negatif lainnya.

Lemah Abang yang masuk kedalam distrik Cibarusa, saat itu masuk wilayah Buitenzorg atau Bogor. Di kuasai oleh Pak Macem seorang Jawara asal kampung citarik ini di kenal oleh penjajah sebagai sosok sangat luar biasa. Memimpin pergerakan bersama para Jawara yang berpengalaman dari berbagai wilayah. Dengan bakat beladiri serta pengalaman tersebut kelompoknya sering membuat penjajah kewalahan dan lagi kelompoknya ini di anggap memiliki kekuatan supranatural yang tidak masuk akal seperti kebal, menghilangkan tubuh atau merubah diri menjadi bentuk lain.

Terlepas dari benar atau tidaknya hal hal mitos tersebut yang jelas berdasarkan fakta dan data, kelompok ini merupakan salah satu kelompok yang menjadi benteng kekuatan patriotisme rakyat Bekasi dalam mempertahankan Negara.

Sekitar bulan November 1945, Pak Macem yang biasa di juluki sebagai Bapak Macan pernah di undang oleh wakil presiden Muhammad Hatta menerus kan amanat presiden Sukarno tentang pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di saat situasi negara semakin kritis sebab gencarnya agresi militer tentara sekutu.

Untuk menghadapi hal tersebut itulah Bung Hatta berkoordinasi dengan para pemimpin perjuangan yang salah satunya adalah Pak Macem mewakili wilayah Cibarusah bersama Manaf Roni dan wahidin dari Cileungsi tiga orang ini mewakili daerah Bogor. Selain itu hadir pula H. Darip dan Pak Asa mewakili Klender, dari Jatinegara diwakili oleh Tohir Mangkudijaya dan Simbangan Tanjung Priok diwakili oleh Abdul Malik dan Abdul Rakhman. Bekasi diwakili oleh Muhayar. Tambun diwakili oleh Tabrani serta Menteng 31 diwakili oleh Amir Syarifuddin dan Hendromartono.

Sebagai generasi bangsa saat ini perlu kita ketahui bersama bahwa, TKR merupakan induk awal cikal bakal TNI, yang bertugas mengamankan Negara dari segala ancaman baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sejak dibacakan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 Belanda bersama sekutu terus Bergerak mengganggu kemerdekaan Indonesia, karena tentara sekutu tidak mengakui kemerdekaan tersebut, sehingga mereka semakin liar melakukan tekanan dan teror terhadap Rakyat Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X