nasional

Prabowo Dorong Hilirisasi, Ekspor Aluminium Indonesia Diproyeksikan Naik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 05:53 WIB
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan beserta jajaran menyampaikan keterangan pers usai diterima Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2026.: Ist
JAKARTA, MAHATVA.ID — Perkembangan hilirisasi industri Indonesia semakin meluas dan tidak lagi hanya bertumpu pada nikel. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memproyeksikan nilai ekspor produk hilirisasi dari nikel, aluminium, dan komponen baterai litium mencapai sekitar US$50 miliar pada akhir 2026.

Proyeksi tersebut disampaikan dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan DEN di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (20/10/2026). Penguatan industri aluminium dan komponen baterai litium dinilai menjadi bagian penting dari perkembangan hilirisasi nasional.

Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto, menjelaskan bahwa kajian terbaru DEN menunjukkan pertumbuhan hilirisasi yang semakin beragam. Selain nikel, industri aluminium dan komponen baterai litium juga berkembang cukup pesat.

“Yang pertama adalah terkait dengan hilirisasi. Tadi kami juga menyampaikan kepada Bapak Presiden, kajian hilirisasi terakhir yang dilakukan oleh Dewan Ekonomi Nasional, di mana sekarang yang terjadi bukan hanya hilirisasi nikel yang terjadi secara masif di Indonesia, tapi ada dua komponen hilirisasi lain yang juga berkembang cukup pesat,” ujar Seto.

Baca Juga: Prabowo Tegaskan Hilirisasi Berlanjut, Ekspor Baterai Kendaraan Listrik Jadi Bukti

Ekspor Aluminium Diproyeksikan Capai US$7,2 Miliar

Salah satu perkembangan yang disoroti DEN adalah industri aluminium. Nilai ekspor produk aluminium Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar US$7,2 miliar, meningkat dibandingkan sekitar US$3,5 miliar pada 2024.

Kenaikan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran industri aluminium dalam mendukung ekspor produk hasil hilirisasi.

DEN juga memperkirakan nilai ekspor aluminium masih berpotensi meningkat hingga melampaui US$10 miliar seiring bertambahnya investasi pada fasilitas peleburan atau smelter aluminium baru di Indonesia.

Baca Juga: Bahlil Ungkap Arahan Prabowo soal Pemadaman Listrik, BBM Subsidi, dan Hilirisasi Tambang

Menurut Seto, perkembangan ini dapat menjadi sumber tambahan devisa bagi negara sekaligus memperkuat kontribusi sektor industri terhadap perekonomian nasional.

“Jadi ini juga akan menjadi sumber tambahan devisa yang sangat baik buat Indonesia. Ke depannya kita perkirakan untuk aluminium ini ekspornya bisa melebihi sekitar 10 miliar dolar seiring dengan penambahan investasi dari smelter-smelter aluminium yang baru di Indonesia,” tuturnya.

Indonesia Kembangkan Komponen Baterai Litium

Selain aluminium, Indonesia juga mulai memperkuat perannya dalam rantai pasok industri baterai litium. Seto menyebut Indonesia telah memproduksi sejumlah komponen baterai, termasuk anoda dan katoda, serta memiliki fasilitas pemurnian litium meskipun tidak mempunyai sumber daya litium di dalam negeri.

Baca Juga: Komisi XIII DPR Usul Lapas Jadi Pusat Pelatihan Tenaga Kerja untuk Dukung Hilirisasi Industri

“Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lebih lengkap,” ungkap Seto.

Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan pengolahan bahan mentah yang tersedia di dalam negeri, tetapi juga dapat terhubung dengan ekosistem industri yang lebih luas.

DEN memperkirakan total nilai ekspor produk hilirisasi dari nikel, aluminium, dan komponen baterai litium mencapai sekitar US$50 miliar pada akhir 2026. Nilai tersebut meningkat hampir 45 persen dibandingkan ekspor produk hilirisasi pada 2024 yang tercatat sekitar US$34,5 miliar.

Halaman:

Tags

Terkini