Ketiadaan seremoni bukan persoalan utama. Atlet tentu tidak membutuhkan karpet merah untuk membuktikan prestasinya.
Tetapi kehadiran pemerintah di tengah atlet yang baru saja membawa nama daerah memiliki makna simbolik. Setidaknya, ada pengakuan bahwa perjuangan mereka dianggap sebagai bagian dari prestasi Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Karena itu, pertanyaan publik kemudian mengarah kepada Dispora: apakah terdapat mekanisme resmi pemerintah daerah untuk menyambut, memberikan penghargaan, atau menindaklanjuti prestasi atlet daerah setelah mengikuti kompetisi?
Jangan Hanya Hadir Ketika Piala Sudah Ada
Pembinaan olahraga tidak boleh berhenti pada seremoni penyerahan piala.
Dispora sebagai perangkat daerah yang menangani urusan kepemudaan dan olahraga memiliki posisi strategis dalam ekosistem olahraga daerah. Bersama organisasi olahraga terkait, pembinaan seharusnya dapat dibangun melalui perencanaan, pendampingan, fasilitasi kompetisi, pengembangan atlet dan evaluasi prestasi.
Karena itu, keberhasilan kontingen Kempo Tanimbar semestinya menjadi momentum evaluasi.
Publik berhak mengetahui apakah terdapat program pembinaan yang secara khusus menjangkau cabang olahraga seperti Kempo.
Publik juga berhak mengetahui bagaimana dukungan pemerintah terhadap atlet yang mewakili daerah, termasuk mekanisme penganggaran dan pertanggungjawabannya.
Pertanyaan tersebut bukan tuduhan.
Sebaliknya, transparansi diperlukan agar masyarakat mengetahui bagaimana pemerintah daerah menjalankan tanggung jawabnya terhadap pembinaan olahraga.
Ketika Orang Tua Menjadi Penopang Utama
Cerita perjuangan para orang tua atlet juga tidak boleh diabaikan.
Jika benar keluarga harus mencari dana sendiri, berutang, bahkan mengorbankan hasil usaha atau kebun demi keberangkatan anak-anak mereka, maka fakta tersebut menunjukkan adanya beban yang ditanggung masyarakat dalam proses pembinaan atlet.
Di satu sisi, orang tua berharap anak mereka dapat membawa nama baik daerah.