berita

HIPPI DKI Siapkan Model Pengolahan Sampah Sayuran Pasar Jadi Kompos

Rabu, 30 September 2026 | 11:58 WIB
HIPPI DKI Siapkan Model Pengolahan Sampah Sayuran Pasar Jadi Kompos

JAKARTA, MAHATVA.ID — Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta mendorong pengelolaan sampah organik dari sumber melalui kolaborasi dunia usaha dan pemerintah. Salah satu gagasan yang dibahas adalah mengolah sampah sayuran dari pasar menjadi kompos melalui model yang dapat direplikasi di berbagai lokasi.

Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan jajaran HIPPI DKI Jakarta dengan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Diana Dewi di kantor PT Suri Nusantara Jaya, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Pertemuan membahas sejumlah peluang kolaborasi dunia usaha, termasuk keterlibatan pengusaha dalam membantu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menangani persoalan sampah sejak dari sumbernya.

Ketua Umum HIPPI DKI Jakarta Uchy Hardiman mengatakan, dunia usaha perlu mengambil bagian dalam membangun model pengelolaan sampah yang dapat diterapkan secara operasional dan berkelanjutan.

Salah satu pendekatan yang didorong ialah mengolah sampah sayuran pasar melalui tahapan pemilahan, pencacahan, penguraian, hingga pematangan bahan organik menjadi kompos.

Pengelolaan sampah dari pasar dinilai memiliki peluang karena sebagian besar sampah yang dihasilkan berupa bahan organik yang dapat dipilah sejak awal.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut timbulan sampah di ibu kota telah mencapai lebih dari 9.000 ton per hari. Sampah organik menyumbang sekitar 49,87 persen dari total timbulan, sedangkan sampah plastik sekitar 22,95 persen.

Pemerintah juga mulai menggeser pola pengelolaan dari sistem angkut-buang menjadi pilah-angkut-olah. Dalam pendekatan tersebut, pasar menjadi salah satu titik penting karena menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar dan relatif mudah dipisahkan berdasarkan jenisnya.

Pasar Induk Kramat Jati, misalnya, tercatat menghasilkan sekitar enam ton sampah per hari. Sebanyak 75–80 persen di antaranya merupakan sampah organik, seperti sisa sayuran, buah, daun, dan makanan.

Sampah organik yang dipilah dapat diolah lebih dekat dengan sumbernya sehingga sebagian material tidak perlu masuk ke rantai pengangkutan menuju tempat pemrosesan akhir. Kompos yang dihasilkan juga berpotensi dimanfaatkan untuk pertanian perkotaan, penghijauan, dan ruang terbuka hijau.

Ketua Umum DPC HIPPI Jakarta Utara Edy Witjaksono sebelumnya telah menjalankan uji coba pengelolaan sampah di sejumlah lokasi. Inisiatif tersebut diarahkan menjadi model hilirisasi yang menghubungkan pengumpulan sampah, pengolahan, pemanfaatan hasil, dan keterlibatan pelaku usaha dalam satu rantai kegiatan.

Model yang didorong dimulai dengan pemilahan sampah organik di pasar. Sampah sayuran yang terkumpul kemudian dicacah untuk memperkecil ukuran bahan, lalu dicampur dengan material pendukung dan dekomposer.

Bahan tersebut ditempatkan pada wadah atau area pengomposan. Selama proses berlangsung, kelembapan dan aerasi perlu dijaga, disertai pembalikan secara berkala hingga bahan terurai dan menjadi kompos matang.

Skema ini membuka peluang pembentukan rantai nilai baru. Pengelola pasar dapat menyediakan sistem pemilahan dan pengumpulan, petugas kebersihan menangani proses awal, sementara pengelola sampah menjalankan fasilitas pengolahan.

Halaman:

Terkini