PEP Rantau Field juga mengembangkan sejumlah inovasi, di antaranya We Are Finest, Ultimate Sand Trap (USAT), serta inovasi Continuous Improvement Program (CIP) PEP Rantau untuk mengatasi tingginya produksi pasir atau sanding.
Sebagai lapangan yang sudah tergolong mature, persoalan sanding menjadi salah satu tantangan operasional karena dapat menimbulkan kehilangan peluang produksi.
Melalui inovasi tersebut, PEP Rantau Field berupaya memperpanjang umur produktif sumur sekaligus mengurangi frekuensi pekerjaan ring.
Dapat Apresiasi SKK Migas
Percepatan pemulihan produksi pascabanjir tersebut mendapat apresiasi dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumatera Bagian Utara (Sumbagut).
Pada April 2026, PEP Rantau Field mendapat penghargaan atas percepatan pemulihan produksi pascabanjir.
Pasalnya, target pemulihan satu tahun yang ditetapkan SKK Migas mampu dituntaskan dalam waktu tiga bulan.
Bagi Tomi, kembalinya produksi bukan semata-mata persoalan angka barel per hari. Pemulihan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan lapangan kembali beroperasi dan terus memberikan kontribusi bagi ketahanan energi nasional.
“Kami optimis target itu tercapai. Harapan kami sederhana. Kembali normal, kembali bangkit, dan kembali memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan energi Indonesia,” ujar Tomi.