berita

Muhammad Sirod Lulus S2 Resolusi Konflik di Usia 47 Tahun, Perjalanan Akademik yang Tak Linear

Jumat, 4 September 2026 | 22:14 WIB
Muhammad Sirod Lulus S2 Resolusi Konflik di Usia 47 Tahun, Perjalanan Akademik yang Tak Linear

“Teknologi yang bagus tidak otomatis menghasilkan bisnis yang bagus. Strategi yang bagus juga tidak otomatis menghasilkan implementasi yang bagus. Di antara keduanya terdapat manusia, organisasi, kepentingan, komunikasi, dan kemampuan mengambil keputusan,” ungkapnya.

Berbagai pengalaman di dunia profesional, bisnis, dan organisasi membuat Muhammad Sirod semakin tertarik untuk memperdalam persoalan manusia.

Menurutnya, banyak persoalan yang secara teknis terlihat sederhana, namun berkembang menjadi konflik karena adanya perbedaan kepentingan, komunikasi, ketidakpercayaan, maupun persoalan sosial.

“Saya semakin sering melihat persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis. Sebuah proyek dapat memiliki desain yang baik, tetapi tetap menghadapi penolakan masyarakat. Sebuah organisasi dapat mempunyai aturan yang jelas, tetapi tetap mengalami konflik internal,” ujarnya.

Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya mempelajari Damai dan Resolusi Konflik di Universitas Pertahanan.

Dalam bidang tersebut, ia mempelajari persoalan manusia dari berbagai perspektif, termasuk relasi sosial, kepentingan, kekuasaan, hukum, psikologi, sosiologi, hingga peran negara.

“Yang awalnya saya belajar tentang bagaimana sistem bekerja, dalam ilmu baru ini saya mempelajari bagaimana manusia berinteraksi di dalam sistem hidupnya yang lebih nyata. Entah itu dalam lokus kecil di sebuah desa, kota, organisasi, bahkan antarnegara,” katanya.

Menurutnya, sistem ekonomi, pemerintahan, bisnis, teknologi, dan masyarakat pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari manusia.

Ketika kepentingan bertemu, dapat terbentuk kerja sama. Namun ketika terdapat perbedaan kepentingan, proses negosiasi dan konflik dapat muncul.

“Ketika ketidakpercayaan tumbuh, muncul ketegangan. Ketika mekanisme penyelesaian tidak berjalan, konflik dapat berkembang. Karena itu, kemampuan memahami manusia menjadi semakin penting bagi siapa pun yang ingin memimpin organisasi atau membangun bisnis,” tuturnya.

Muhammad Sirod menyelesaikan pendidikan magister pada usia 47 tahun. Ia mengakui bahwa bagi sebagian orang, usia tersebut mungkin dianggap terlambat untuk kembali menjadi mahasiswa.

Namun ia memandang pendidikan dari perspektif yang berbeda.

Menurutnya, pengalaman panjang di dunia kerja, bisnis, organisasi, dan kehidupan justru membuat proses pembelajaran akademik memiliki makna yang berbeda.

“Saya datang ke kampus setelah membawa pengalaman kerja, pengalaman bisnis, pengalaman organisasi, dan berbagai persoalan nyata yang sebelumnya saya temui di lapangan. Pertanyaan yang saya bawa ke ruang kelas sudah terbentuk melalui perjalanan panjang. Pendidikan kemudian memberikan kerangka ilmiah untuk memahami pertanyaan-pertanyaan tersebut,” ujarnya.

Ia menilai pendidikan tidak memiliki satu jadwal yang berlaku untuk semua orang.

Halaman:

Terkini