JAKARTA, MAHATVA.ID — Perjalanan pendidikan tidak selalu harus ditempuh melalui jalur yang lurus. Pesan itulah yang disampaikan Muhammad Sirod, S.TP., M.Han., setelah menyelesaikan pendidikan magister bidang Damai dan Resolusi Konflik di Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) pada usia 47 tahun.
Sebelum menempuh pendidikan di Unhan, Muhammad Sirod lebih dahulu menyelesaikan pendidikan S1 Teknologi Industri Pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada akhir 2002.
Dua latar belakang pendidikan tersebut terlihat berbeda. Agroindustri identik dengan teknologi, proses produksi, sistem industri, efisiensi, dan pengelolaan sumber daya. Sementara Damai dan Resolusi Konflik membawa perspektif yang lebih dekat dengan persoalan manusia, relasi sosial, kepentingan, kekuasaan, komunikasi, dan konflik.
Bagi Muhammad Sirod, perbedaan dua bidang ilmu tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan panjang yang saling melengkapi.
“Perjalanan pendidikan saya tidak dibangun dengan rencana akademik yang lurus dari satu jenjang ke jenjang berikutnya. Ia tumbuh mengikuti pengalaman hidup dan kemudian memunculkan pertanyaan-pertanyaan dari pekerjaan, bisnis, organisasi, serta interaksi dengan masyarakat,” ujar Muhammad Sirod, dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026).
Saat menempuh pendidikan Teknologi Industri Pertanian di IPB, Muhammad Sirod mengaku belajar melihat berbagai persoalan sebagai sebuah sistem.
Menurutnya, sistem tersebut terdiri atas berbagai unsur, mulai dari bahan baku, proses, teknologi, hingga produk yang dihasilkan dan kemudian masuk ke pasar.
Namun di dalam proses tersebut terdapat faktor penting lainnya, yakni manusia dan organisasi yang mengambil keputusan.
“Ketika belajar Teknologi Industri Pertanian di IPB, saya belajar melihat sesuatu sebagai sistem. Bahan baku masuk, proses berlangsung, teknologi digunakan, produk dihasilkan, kemudian produk masuk ke pasar. Ada manusia yang menjalankan proses, ada organisasi yang mengambil keputusan, ada biaya yang harus dikendalikan, dan ada konsumen yang menentukan apakah suatu produk mempunyai nilai,” katanya.
Cara berpikir sistematis tersebut kemudian dibawanya dalam perjalanan profesional selama bertahun-tahun.
Muhammad Sirod pernah bekerja di sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan besar seperti Unilever dan AVK Valves asal Denmark. Ia juga pernah bekerja di perusahaan keluarga yang skalanya lebih kecil.
Selama kurang lebih 13 tahun berkarier sebagai profesional, ia kemudian melanjutkan perjalanan sebagai entrepreneur dan CEO dengan menjalankan perusahaan sendiri selama sekitar satu dekade.
Dari perjalanan tersebut, ia memperoleh berbagai pengalaman mengenai teknologi, bisnis, organisasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, hingga pengelolaan risiko.
Namun, pengalaman tersebut juga membawanya pada satu kesadaran bahwa persoalan dalam organisasi dan bisnis tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknis.