Arief meminta seluruh pihak, termasuk tokoh politik yang memiliki kedekatan historis dengan NU, agar tidak mengklaim NU sebagai milik kelompok tertentu.
Menurutnya, kedekatan seseorang dengan NU tidak otomatis memberikan hak untuk mendefinisikan NU berdasarkan kepentingan politiknya sendiri.
“NU lebih besar daripada kepentingan politik siapa pun,” tegas Arief.
Ia mengatakan NU harus tetap menjadi rumah besar bagi umat dan bagian penting dari kekuatan masyarakat sipil Indonesia.
Karena itu, jika terdapat persoalan di tubuh NU, jalan keluarnya bukan dengan mencari kambing hitam berdasarkan latar belakang organisasi seseorang.
Melainkan melalui evaluasi, pembenahan tata kelola, penguatan kaderisasi, serta mengembalikan orientasi organisasi kepada kepentingan umat dan bangsa.
“NU bukan milik Muhaimin Iskandar. NU adalah aset bangsa yang harus dijaga marwahnya,” pungkas Arief.