berita

Batik Merauke Didorong Menembus Pasar Nasional, Budaya Papua Selatan Mulai Dibidik Pusat Ekonomi Jakarta

Rabu, 12 Agustus 2026 | 03:04 WIB
Batik Merauke Didorong Menembus Pasar Nasional, Budaya Papua Selatan Mulai Dibidik Pusat Ekonomi Jakarta

Sebagai putra Maluku yang kini menjalankan tugas di Papua Selatan, ia menilai pengabdian tidak semestinya dibatasi oleh asal-usul seseorang.

Menurutnya, ketika seseorang memperoleh kepercayaan untuk bekerja di suatu wilayah, orientasi utamanya harus memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Indonesia ini kan kita di mana saja Tuhan tempatkan, kita mengabdi, melayani, di mana saja,” ujarnya.

Ia menegaskan, ukuran keberhasilan pengabdian tidak semata-mata dapat dilihat dari jabatan yang diduduki. Ukuran yang lebih penting adalah dampak nyata yang ditinggalkan bagi masyarakat.

“Dampak itu mengangkat martabat orang lain, sehingga mereka tidak terpuruk dengan kehidupan mereka. Dengan kehadiran kita, kita ikut membantu mereka. Itu yang kita ambil,” katanya.

Prinsip tersebut menjadi relevan ketika pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif tidak hanya diarahkan untuk mengejar angka kunjungan wisatawan, tetapi juga memastikan masyarakat lokal menjadi penerima manfaat utama.

Festival Budaya Jangan Berhenti sebagai Seremoni

Potensi Papua Selatan tidak hanya berada pada produk kerajinan dan batik.

Wilayah ini juga memiliki kekayaan budaya yang dapat menjadi magnet pariwisata. Sejumlah agenda budaya besar disebut terus dikembangkan, antara lain Festival Budaya Asmat di Asmat, Festival Digul di Merauke, serta Festival Sejuta Rawa di Mappi.

Soleman menilai festival budaya semestinya tidak dipandang hanya sebagai agenda hiburan atau seremoni tahunan.

Jika dikelola secara serius, festival dapat menjadi mesin penggerak ekonomi masyarakat.

Wisatawan yang datang membutuhkan transportasi, penginapan, makanan, pemandu, kerajinan, suvenir hingga berbagai kebutuhan selama berada di daerah tujuan wisata.

Di situlah efek ekonomi pariwisata bekerja.

Satu wisatawan tidak hanya memberikan pendapatan kepada penyelenggara kegiatan, tetapi juga berpotensi menghidupkan banyak sektor ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Festival Budaya Asmat, misalnya, disebut telah mampu menarik perhatian wisatawan dalam jumlah besar sehingga aktivitas ekonomi di wilayah tersebut meningkat ketika festival berlangsung.

Halaman:

Terkini