• Sabtu, 10 Oktober 2026

Amuk Arogansi di Balik Lencana: Saat SPKT Tanimbar Berubah Menjadi Neraka Etika

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Senin, 14 September 2026 | 00:15 WIB
Amuk Arogansi di Balik Lencana: Saat SPKT Tanimbar Berubah Menjadi Neraka Etika
Amuk Arogansi di Balik Lencana: Saat SPKT Tanimbar Berubah Menjadi Neraka Etika

‎MAHATVA.ID -Malam yang dingin di pelataran SPKT Polres Kepulauan Tanimbar mendadak berubah menjadi panggung teater kekuasaan yang menjijikkan. Di tempat yang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi pencari keadilan, justru tercium aroma busuk kesewenang-wenangan yang menyesakkan dada.

‎Minggu malam (13/9/2026), menjadi saksi bisu bagaimana seragam cokelat bukannya memberikan perlindungan, melainkan luka psikis bagi warga.

‎Seorang wartawan yang datang dengan niat mulia-mendampingi keluarga korban percobaan pembunuhan yang tengah gemetar ketakutan, justru disambut dengan proyektil bentakan yang memekakkan telinga.

‎Oknum Aiptu Agus Sermatang: Polisi atau Penguasa Feodal?

‎Belum juga kaki menyentuh aspal sepenuhnya, teriakan kasar Aiptu Agustinus Sermatang sudah menyalak liar. Bukan sapaan ramah "Ada yang bisa kami bantu?" yang keluar, melainkan mangklaim tentang sebuah "topi"

‎‎Ya, Anda tidak salah baca. Di saat ada warga yang nyawanya terancam dan membutuhkan pertolongan darurat (percobaan penikaman), seorang oknum polisi merasa urusan "topi di ruang terbuka" jauh lebih krusial daripada nyawa manusia.

‎Tidak ada papan larangan, tidak ada aturan tertulis, yang ada hanyalah ego yang membuncah dari balik kemudi mobil patroli.

‎Agus Sermatang tidak sedang menegakkan aturan; dia sedang memamerkan taring kekuasaan kepada rakyat yang membayarnya.

‎Standar Ganda yang Menyakiti Akal Sehat

‎Ketimpangan moral makin telanjang saat dikonfirmasi di lokasi yang sama, anggota polisi lain berpakaian preman tampak santai mengenakan topi tanpa teguran sedikit pun. Jawaban Agus?

‎"Mereka itu kan Buser, sedang bertugas."

‎Logika cacat macam apa ini? Apakah aturan kesopanan hanya berlaku bagi rakyat sipil pembayar pajak, sementara bagi aparat, aturan hanyalah hiasan yang boleh dilanggar sesuka hati? Ini bukan soal disiplin, ini adalah apartheid etika di tubuh institusi yang seharusnya menjadi teladan.

‎Menanti "Pedang" Kapolda Maluku: Masih Adakah Nurani?

‎Tindakan Iptu Agus Sermatang adalah parasit yang menggerogoti citra Polri dari dalam. Slogan "Presisi" dan "Pengayom Masyarakat" seolah menjadi lelucon pahit di tengah bentakan yang tak manusiawi. Arogansi ini bukan sekadar salah paham, melainkan bukti nyata adanya oknum yang merasa dirinya "tak tersentuh" oleh adab.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X