JAKARTA, MAHATVA.ID – Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali meningkat dan mencapai level tertinggi dalam data yang tersedia sejak 2007. Pada Juni 2026, total ULN Indonesia tercatat sebesar US$453,37 miliar atau sekitar Rp8.084 triliun dengan asumsi kurs Rp17.830 per dolar AS.
Berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Agustus 2026, posisi tersebut meningkat US$8,32 miliar dibandingkan Mei 2026 yang tercatat sebesar US$445,05 miliar.
Secara tahunan, ULN Indonesia juga mengalami pertumbuhan sekitar 4,4 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar US$434,17 miliar. Sementara dibandingkan posisi Maret 2026, utang luar negeri Indonesia bertambah US$18,91 miliar.
Menariknya, kenaikan total ULN tersebut bukan berasal dari peningkatan utang pemerintah maupun sektor swasta.
Posisi ULN pemerintah justru mengalami penurunan US$1,03 miliar, dari US$217,33 miliar pada Mei menjadi US$216,29 miliar pada Juni 2026. Meski turun secara bulanan, posisi utang pemerintah masih meningkat sekitar 2,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, ULN sektor swasta juga menyusut US$1,96 miliar menjadi US$194,62 miliar, atau turun sekitar 0,6 persen secara tahunan.
Utang Bank Indonesia Melonjak
Peningkatan total utang luar negeri Indonesia terutama berasal dari sektor bank sentral.
Posisi ULN Bank Indonesia melonjak US$11,31 miliar hanya dalam satu bulan, dari US$31,15 miliar pada Mei menjadi US$42,46 miliar pada Juni 2026.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya kepemilikan investor asing pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Lonjakan posisi utang bank sentral tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong total ULN Indonesia mencapai US$453,37 miliar pada akhir triwulan II-2026.
Utang dari Amerika Serikat Melonjak Tajam
Di tengah perubahan komposisi ULN, posisi utang Indonesia dari Amerika Serikat mengalami kenaikan signifikan.
Pada Juni 2026, utang Indonesia dari AS mencapai US$29,54 miliar, meningkat US$1,53 miliar atau sekitar 5,46 persen dibandingkan Mei 2026 yang sebesar US$28,01 miliar.
Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar secara nominal dibandingkan negara-negara kreditor utama Indonesia yang dirinci dalam data periode Juni 2026.
Sebagian besar utang dari AS berasal dari sektor swasta. Dari total US$29,54 miliar, sekitar US$29,24 miliar merupakan utang sektor swasta, sementara utang pemerintah dan bank sentral tercatat sekitar US$293,6 juta.