Ketiga, memperkuat upaya perlindungan terhadap kompleks Masjid Al Aqsa dan tempat-tempat suci di Yerusalem.
Keempat, mendukung proses rekonstruksi Gaza serta memperkuat persatuan nasional Palestina.
Kelima, mendukung mandat dan keberlanjutan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pengungsi Palestina, United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA).
Kelima agenda tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi bersama negara-negara yang memiliki kepedulian terhadap penyelesaian persoalan Palestina.
Dalam pertemuan tersebut, Wamenlu Arrmanatha juga menegaskan dukungan Indonesia terhadap keberlanjutan perwalian Wangsa Hasyimiyah Yordania terhadap tempat-tempat suci di Yerusalem, termasuk kompleks Masjid Al Aqsa.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari posisi Indonesia dalam mendorong perlindungan status serta keberadaan tempat-tempat suci di Yerusalem.
Pertemuan tingkat menteri di Amman turut dihadiri perwakilan sejumlah negara, antara lain Aljazair, Arab Saudi, Irak, Mesir, Turki, Tunisia, Somalia, Pakistan, Maroko, Palestina, Malaysia, dan Qatar.
Sekretaris Jenderal Liga Arab juga turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Dalam pernyataan bersama yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut, para delegasi menyatakan dukungan terhadap institusi Palestina di Yerusalem.
Para peserta juga menentang pemindahan secara sepihak misi diplomatik ke Yerusalem serta berkomitmen memperluas informasi mengenai tindakan pemerintah Israel yang dinilai melanggar hukum internasional beserta dampaknya terhadap masyarakat dan dunia internasional.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu upaya diplomatik untuk memperkuat koordinasi negara-negara yang mendukung hak-hak Palestina dan mendorong penyelesaian konflik berdasarkan hukum internasional.
Indonesia menilai solidaritas dan persatuan komunitas internasional menjadi faktor penting agar persoalan Palestina tidak terus ditangani secara terpisah-pisah, melainkan melalui strategi bersama yang lebih konkret dan terukur.