• Selasa, 13 Oktober 2026

Djoko Siswanto Resmikan Pembangunan FPSO Terbesar Indonesia, Investasi Capai USD 15 Miliar

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Kamis, 23 Juli 2026 | 23:45 WIB
Djoko Siswanto Resmikan Pembangunan FPSO Terbesar Indonesia, Investasi Capai USD 15 Miliar
Djoko Siswanto Resmikan Pembangunan FPSO Terbesar Indonesia, Investasi Capai USD 15 Miliar

JAKARTA, MAHATVA.ID – Kepala SKK Migas Djoko Siswanto bersama Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) mewakili pemerintah menghadiri seremoni First Steel Cutting atau pemotongan baja pertama pembangunan Floating Production Storage and Offloading (FPSO) BHL, yang disebut sebagai FPSO terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, sekaligus masuk dalam jajaran FPSO terbesar di dunia.

Prosesi tersebut berlangsung di kawasan galangan kapal Karimun, Batam, dan Bintan, serta dihadiri jajaran pimpinan Seatrium Group, ENI, Petronas, Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Bupati Karimun, dan para pemangku kepentingan lainnya.

Djoko Siswanto menyampaikan rasa syukur atas dimulainya pembangunan fasilitas produksi lepas pantai strategis tersebut yang menjadi bagian dari Proyek North Hub & Gehem.

"Alhamdulillah kami bersama Pak Dirjen Migas telah menyelesaikan seremoni pemotongan baja pertama pembangunan FPSO terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Mohon doa agar seluruh pekerjaan berjalan OTOBOS (On Time, On Budget, On Schedule) serta aman, lancar, tanpa kecelakaan," ujar Djoko Siswanto.

Investasi Hampir USD 15 Miliar

FPSO BHL merupakan bagian penting dari pengembangan lapangan migas laut dalam (deepwater) North Hub & Gehem dengan nilai investasi yang mendekati USD 15 miliar atau sekitar Rp244 triliun (estimasi kurs Rp16.300/USD).

Sementara pembangunan FPSO BHL sendiri menelan investasi sekitar USD 2,9 miliar.

FPSO tersebut memiliki spesifikasi berkelas dunia, dengan panjang mencapai 300 meter, lebar 45 meter, serta kapasitas penyimpanan hingga 1,4 juta barel.

Pembangunan badan kapal (hull) dilakukan di China, sedangkan pembangunan topside dikerjakan di galangan Karimun, Batam, dan Bintan, sehingga memberikan dampak signifikan terhadap industri galangan kapal nasional.

Produksi Gas dan Kondensat

Saat mulai beroperasi pada 2028, proyek ini ditargetkan mampu memproduksi sekitar 1.000 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD), baik untuk gas pipa maupun LNG.

Sebanyak 72 persen produksi gas dialokasikan untuk kebutuhan domestik, termasuk cadangan sekitar 8 persen, sementara 28 persen sisanya diperuntukkan bagi pasar ekspor.

Selain gas, proyek ini juga diproyeksikan menghasilkan 80.000 barel kondensat per hari (BOPD) dari 16 sumur pengembangan yang dibor pada laut dengan kedalaman sekitar 2.000 meter, serta kedalaman sumur mencapai 3.000 meter.

Serap 8.000 Tenaga Kerja Lokal

Pembangunan proyek strategis nasional tersebut juga memberikan dampak ekonomi yang besar dengan melibatkan sekitar 8.000 tenaga kerja lokal atau sekitar 98 persen dari total pekerja.

Sementara tenaga kerja asing hanya sekitar 2 persen, menunjukkan tingginya keterlibatan sumber daya manusia Indonesia dalam proyek migas kelas dunia tersebut.

SKK Migas memperkirakan proyek North Hub & Gehem akan memberikan penerimaan negara sekitar USD 12,9 miliar selama masa operasinya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X