Djoko menuturkan bahwa pekerja migas harus menghadapi berbagai potensi bahaya di lapangan, mulai dari pekerjaan di ketinggian, risiko tertimpa material berat, ledakan gas, hingga paparan gas beracun seperti hidrogen sulfida (H2S).
Selain itu, terdapat pula ancaman dari semburan liar (blowout), pipa bertekanan tinggi, hingga kecelakaan kerja akibat kondisi lingkungan yang ekstrem.
“Satu kesalahan kecil dapat berakibat fatal. Mereka mengorbankan waktu bersama keluarga, tenaga, dan kenyamanan demi memastikan energi tetap tersedia untuk masyarakat,” jelasnya.
Industri Migas Dibangun dari Modal dan Pengorbanan
Djoko menegaskan bahwa setiap tetes minyak dan gas yang berhasil diproduksi merupakan hasil dari kombinasi investasi besar dan dedikasi tinggi para pekerja di lapangan.
Menurutnya, keberhasilan sektor hulu migas tidak hanya dapat diukur dari jumlah produksi energi, tetapi juga dari komitmen seluruh pihak yang terlibat dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.
“Setiap tetes minyak dan gas yang mengalir keluar dari perut bumi dibayar dengan dua mata uang, yaitu modal yang dipertaruhkan investor dan kerja keras serta keselamatan yang dipertaruhkan para pekerja migas,” ungkapnya.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras tersebut, SKK Migas turut membagikan dokumentasi kegiatan pengeboran sumur yang saat ini sedang dilaksanakan oleh SRB sebagai gambaran nyata aktivitas operasional di lapangan.
Dokumentasi tersebut memperlihatkan berbagai tahapan pengeboran yang membutuhkan teknologi, sumber daya manusia, serta investasi besar untuk memastikan target produksi energi nasional dapat tercapai.