Ia menyinggung sejumlah konflik internasional yang masih berlangsung, mulai dari perang di Ukraina hingga ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan sejumlah negara seperti Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.
Dalam situasi tersebut, menurut Teddy, seorang kepala negara perlu membangun hubungan personal dan komunikasi yang kuat dengan para pemimpin dunia sebagai bagian dari strategi diplomasi.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Kita harus panen hubungan yang baik. Lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya," ujarnya.
Bantah Kunjungan Hanya Bersifat Seremonial
Teddy juga membantah anggapan bahwa kunjungan luar negeri Presiden hanya bertujuan untuk kegiatan seremonial atau pencitraan.
Ia menegaskan bahwa diplomasi modern tidak hanya dilakukan melalui forum resmi yang disorot media, tetapi juga melalui komunikasi personal dan hubungan emosional antar pemimpin negara.
"Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung, diliput media, ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi. Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan secara seremonial," tegas Teddy.
Pernyataan tersebut menjadi respons resmi pemerintah atas berbagai kritik yang muncul terkait frekuensi perjalanan luar negeri Presiden Prabowo selama hampir dua tahun pertama masa pemerintahannya.