Berdasarkan laporan, Praka Fahrizal gugur di pos UNIFIL wilayah Adchit Al Qusayr, sementara Kapten Zulmi dan Sertu Muhammad tewas dalam serangan terhadap konvoi logistik di Bani Hayyan.
Selain korban jiwa, lima personel lainnya mengalami luka-luka.
Dalam forum internasional tersebut, Umar Hadi menegaskan bahwa Dewan Keamanan PBB harus:
Mengawasi proses investigasi secara ketat
Menjamin akuntabilitas pelaku
Mencegah adanya impunitas (kekebalan hukum)
“Para penjaga perdamaian ini gugur saat menjalankan mandat Dewan Keamanan,” tegas Umar.
Indonesia juga mendesak langkah darurat untuk meningkatkan keselamatan pasukan penjaga perdamaian, di antaranya:
Peninjauan ulang protokol keamanan
Penguatan sistem perlindungan personel
Aktivasi rencana evakuasi yang adaptif
Selain itu, Indonesia meminta semua pihak, termasuk Israel, untuk menghentikan agresi dan mematuhi hukum internasional.
Pertemuan Dewan Keamanan ini diinisiasi oleh Indonesia bersama Prancis sebagai bentuk komitmen terhadap misi perdamaian PBB yang telah dijalankan sejak 1957.
Indonesia juga menekankan pentingnya pemulangan jenazah prajurit secara cepat dan bermartabat serta perawatan maksimal bagi korban luka.