• Kamis, 22 Oktober 2026

Geopolitik Global Memanas, Muhammad Sirod: Ketahanan Energi Jadi Ujian Ekonomi Indonesia

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Kamis, 5 Maret 2026 | 21:45 WIB
Geopolitik Global Memanas, Muhammad Sirod: Ketahanan Energi Jadi Ujian Ekonomi Indonesia
Geopolitik Global Memanas, Muhammad Sirod: Ketahanan Energi Jadi Ujian Ekonomi Indonesia

Jakarta, MAHATVA.ID – Ketegangan geopolitik global yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai menjadi ujian serius bagi stabilitas ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia.

Fungsionaris Kadin Indonesia sekaligus Dewan Pakar Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia, Muhammad Sirod, mengatakan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah menunjukkan perubahan struktur geopolitik global yang semakin kompleks.

Menurutnya, persaingan kekuatan besar kini kembali menjadi faktor dominan dalam hubungan internasional, terutama dalam perebutan kepentingan strategis seperti energi, teknologi, dan keamanan kawasan.

“Perubahan ini tentu berdampak pada negara yang terintegrasi dalam ekonomi global, termasuk Indonesia. Stabilitas energi, perdagangan, hingga sistem keuangan domestik sangat dipengaruhi dinamika geopolitik tersebut,” ujar Muhammad Sirod dalam keterangannya.

Ketegangan Timur Tengah Picu Risiko Energi

Muhammad Sirod menjelaskan bahwa kawasan Timur Tengah memiliki posisi strategis dalam sistem energi dunia. Setiap gangguan stabilitas di kawasan tersebut hampir selalu memicu kenaikan harga minyak global.

Situasi ini menjadi perhatian bagi banyak negara pengimpor energi, termasuk Indonesia yang dalam satu dekade terakhir berstatus sebagai net importer minyak.

Produksi minyak domestik terus menurun, sementara konsumsi energi nasional meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk.

Di sisi lain, cadangan energi nasional juga masih terbatas. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan bahwa kapasitas cadangan BBM nasional saat ini berkisar sekitar 20 hingga 23 hari karena keterbatasan fasilitas penyimpanan.

Pemerintah pun tengah menyiapkan pembangunan tangki penyimpanan baru guna meningkatkan cadangan energi nasional hingga mencapai standar ketahanan sekitar tiga bulan.

Ketergantungan terhadap impor energi membuat Indonesia cukup sensitif terhadap gejolak harga minyak global. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara serta biaya energi domestik.

Diplomasi Ekonomi Perlu Diperkuat

Dalam menghadapi situasi tersebut, Muhammad Sirod menilai Indonesia tetap memiliki instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas harga energi, salah satunya melalui kebijakan fiskal pemerintah.

Harga BBM bersubsidi di Indonesia tidak secara otomatis mengikuti harga minyak internasional, melainkan ditentukan melalui kebijakan pemerintah guna menjaga daya beli masyarakat.

Selain itu, diplomasi ekonomi juga menjadi faktor penting dalam menghadapi dinamika geopolitik global.

Menurutnya, politik luar negeri bebas aktif tetap menjadi prinsip utama Indonesia dalam menjalin hubungan internasional. Namun implementasinya harus adaptif terhadap perubahan struktur kekuatan global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X